Shell jewelry Kembali Tren seiring bangkitnya gaya fashion era 1990-an dan awal 2000-an. Tidak hanya pakaian serta riasan yang membawa nuansa nostalgia, aksesori berbahan atau bermotif cangkang juga kembali menarik perhatian. Namun, tren kali ini hadir dengan pendekatan berbeda. Desainer dan pencinta fashion memadukan elemen khas pantai tersebut dengan emas, mutiara, serta detail kontemporer agar cocok untuk berbagai kesempatan.
Pada masa lalu, banyak orang mengenal perhiasan cangkang sebagai bagian dari gaya masyarakat pesisir dan budaya selancar. Kalung sederhana yang terdiri dari potongan cangkang menjadi salah satu aksesori ikonik pada masanya. Kini, perkembangan desain membuat shell jewelry lebih fleksibel. Pemakainya dapat mengombinasikan aksesori tersebut dengan pakaian santai ataupun busana yang memberikan kesan lebih elegan.
Puka Shell Membawa Kembali Nuansa Fashion 1990-an
Puka shell menjadi salah satu jenis perhiasan cangkang yang paling kuat menghadirkan nostalgia era 1990-an. Desain klasiknya mengandalkan potongan-potongan cangkang yang tersusun pada seutas tali hingga membentuk kalung sederhana.
Terry Peek, pemilik Grass Shack Trading, menjelaskan bahwa kata “puka” berasal dari bahasa Hawaii yang memiliki arti “lubang”. Cangkang puka pada awalnya memanfaatkan bagian ujung berbentuk kerucut dari cangkang siput laut. Bagian tersebut memiliki karakter warna cokelat dengan pola belang yang khas.
Para perajin kemudian menyusun potongan cangkang menggunakan tali berbahan katun atau sutra. Masyarakat kepulauan mengenakan aksesori tersebut sebagai bagian dari ekspresi budaya mereka.
Popularitasnya kemudian berkembang dan semakin erat dengan kehidupan pesisir serta kultur selancar. Tren fashion modern membawa kembali karakter tersebut, tetapi desainer memberikan lebih banyak variasi melalui tambahan material, bentuk, dan ornamen.
Perubahan tersebut membuat puka shell tidak lagi bergantung pada tampilan sederhana seperti beberapa dekade lalu. Pemakainya sekarang memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan aksesori dengan karakter busana masing-masing.
Cowrie Shell Hadir dengan Emas dan Mutiara
Selain puka shell, tren shell jewelry kembali tren juga mengangkat popularitas cowrie shell. Jenis cangkang ini mempunyai karakter yang berbeda. Bentuknya relatif lebih besar dan cenderung oval dengan celah khas pada bagian tengah.
Cowrie shell memiliki perjalanan sejarah yang panjang, terutama dalam berbagai kebudayaan Afrika. Selama ratusan tahun, masyarakat memanfaatkan cangkang tersebut untuk berbagai keperluan, mulai dari perhiasan dan dekorasi kepala hingga alat pertukaran.
Sejumlah tradisi juga menghubungkan cowrie shell dengan simbol keberuntungan serta kekayaan. Nilai historis dan karakter visualnya kemudian memberikan identitas tersendiri ketika unsur tersebut masuk ke dalam perkembangan fashion modern.
Kini, para desainer tidak hanya menghadirkan cowrie shell dalam bentuk kalung sederhana. Mereka mengolahnya menjadi choker, menambahkan lapisan bernuansa emas, atau mengombinasikannya dengan mutiara.
Perpaduan dengan mutiara membuat karakter perhiasan cangkang terasa lebih anggun. Sentuhan tersebut sekaligus memperluas penggunaannya. Shell jewelry kini dapat melengkapi pakaian sehari-hari tanpa harus selalu menghadirkan kesan liburan atau suasana pantai.

Ilustrasi kalung kerang ala tahun 90-an yang kembali tren.
Shell Jewelry Modern Tampil Lebih Mewah
Kembalinya tren perhiasan cangkang memperlihatkan kemampuan industri fashion dalam mengolah inspirasi lama menjadi sesuatu yang relevan dengan masa kini. Desain shell jewelry pada era sebelumnya cenderung sederhana, sedangkan versi modern menawarkan eksplorasi material dan detail yang jauh lebih luas.
Logam mulia, mutiara, dan rancangan yang lebih kompleks memberikan karakter baru pada aksesori tersebut. Model Gigi Hadid juga pernah memperlihatkan penggunaan aksesori cowrie shell dalam tampilan modern. Kehadiran figur fashion turut menunjukkan bahwa elemen bernuansa pantai dapat masuk ke dalam gaya kontemporer.
Sejumlah rumah mode pun memasukkan inspirasi cangkang ke dalam rancangan perhiasan mereka. Pendekatan tersebut semakin menjauhkan shell jewelry dari anggapan bahwa aksesori ini hanya cocok untuk gaya santai.
Pengguna sekarang dapat menjadikannya aksen pada berbagai kombinasi pakaian. Desain minimalis dapat mendukung penampilan kasual, sementara model dengan detail emas atau mutiara mampu memberikan sentuhan yang lebih mewah.
Tidak Semua Perhiasan Memakai Cangkang Asli
Popularitas shell jewelry juga memunculkan banyak produk imitasi. Clifford Nae’ole, penasihat budaya asal Hawaii, menjelaskan bahwa proses menghasilkan perhiasan dari cangkang asli membutuhkan ketelitian sekaligus kesabaran.
Perajin perlu mencari cangkang yang sesuai dengan rancangan, memilih bentuk yang tepat, membersihkannya, lalu memotong material tersebut sebelum mengolahnya menjadi perhiasan. Proses panjang itu membuat pembuatan aksesori dari cangkang asli membutuhkan perhatian terhadap setiap detail.
Nae’ole juga menyebut banyak kalung puka shell imitasi kini berasal dari berbagai negara. Karena itu, konsumen dapat menemukan produk dengan tampilan menyerupai cangkang meskipun produsennya tidak selalu menggunakan material alami.
Nostalgia yang Beradaptasi dengan Fashion Masa Kini
Fenomena shell jewelry kembali tren menegaskan bahwa estetika 1990-an dan awal 2000-an masih memiliki tempat dalam perkembangan fashion saat ini. Namun, tren tersebut tidak kembali dalam bentuk yang sepenuhnya sama.
Desainer mengembangkan karakter klasiknya melalui penggunaan emas, mutiara, detail dekoratif, dan bentuk yang lebih minimalis. Transformasi tersebut membuat perhiasan cangkang mampu bergerak dari aksesori bernuansa pantai menuju pelengkap gaya yang lebih serbaguna.
Kombinasi nostalgia dan pendekatan desain kontemporer menjadi daya tarik utama shell jewelry masa kini. Pemakainya tetap dapat memperoleh nuansa retro tanpa harus terlihat seperti mengulang gaya beberapa dekade lalu. Dengan pilihan desain yang semakin luas, aksesori cangkang kini dapat melengkapi penampilan kasual, modern, maupun elegan.