Gamelan Sekaten Keraton Solo kembali mengalun di halaman Masjid Agung Solo dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dua perangkat gamelan pusaka, Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu, menghadirkan suasana khas yang menarik perhatian warga. Selain menjadi bagian dari tradisi tahunan, bunyi gamelan tersebut juga membawa sebagian pengunjung pada kenangan masa lalu.
Pada Senin (24/8/2026), para abdi dalem Keraton Solo memainkan kedua perangkat gamelan dari Bangsal Pagongan. Masyarakat datang dan berkumpul di sekitar lokasi untuk menikmati secara langsung salah satu tradisi penting yang terus berlangsung di Kota Solo.
Sebagian pengunjung merasakan suasana emosional ketika mendengar irama gamelan. Nuansa religius di lingkungan Masjid Agung berpadu dengan suara instrumen tradisional sehingga memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang hadir.
Salah satu pengunjung, Diyah Widhi (50) asal Kartasura, Sukoharjo, datang setelah menunaikan salat zuhur. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menikmati gamelan sekaligus ikut merawat kedekatan masyarakat dengan budaya Jawa.
Menurutnya, mendengarkan gamelan secara langsung memberikan ketenteraman tersendiri. Terlebih, masyarakat hanya dapat menikmati momentum tersebut pada waktu tertentu dalam rangkaian Sekaten setiap tahun.
Perantau Bernostalgia dengan Tradisi Sekaten
Tidak hanya warga sekitar, Gamelan Sekaten Keraton Solo juga membangkitkan kenangan bagi masyarakat yang telah lama meninggalkan kota tersebut. Lela (60), misalnya, datang ke Masjid Agung Solo setelah sekian lama merantau ke Jakarta.
Lela menghabiskan masa kecilnya di Solo. Setelah menghadiri acara reuni, ia bersama dua temannya menyempatkan diri melihat penabuhan gamelan. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk mengenang pengalaman masa kecil.
Hubungan Lela dengan tradisi Sekaten sudah berlangsung selama sekitar 50 tahun. Ketika masih tinggal di Solo, ia telah mengenal dan menyaksikan langsung penabuhan gamelan dalam rangkaian perayaan tersebut.
Setelah puluhan tahun berlalu, ia kembali menemukan atmosfer yang familier. Menurut Lela, suasana Sekaten yang ia rasakan sekarang tidak jauh berbeda dibandingkan ketika dirinya masih kecil.
Kenangan tersebut membuat kunjungannya bukan sekadar aktivitas wisata atau hiburan. Bagi Lela, kembali menyaksikan gamelan menjadi semacam perjalanan untuk menelusuri bagian dari kehidupan masa lalunya di Solo.

Gamelan Kyai Guntur Sari Keraton Solo ditabuh di Kompleks Masjid Agung, Senin (24/8/2026).
Kinang dan Ndok Amal Lengkapi Pengalaman Sekaten
Selain mendengarkan gamelan, Lela bersama dua temannya membeli barang yang identik dengan tradisi Sekaten. Mereka memilih kinang serta telur asin yang masyarakat kenal dengan sebutan ndok amal.
Barang-barang tersebut memiliki nilai tersendiri dalam pengalaman masyarakat saat mengikuti Sekaten. Lela membeli telur asin untuk ikut melarisi pedagang. Sementara itu, ia membawa kinang sebagai kenang-kenangan dari kunjungannya.
Kehadiran berbagai unsur tradisional tersebut memperlihatkan bahwa Sekaten tidak hanya berpusat pada penabuhan gamelan. Tradisi ini juga menghadirkan kebiasaan masyarakat yang terus menyertai perayaan dari generasi ke generasi.
Gamelan Pusaka Dibawa dari Keraton Solo
Sebelum mengalun di Masjid Agung, Keraton Solo membawa Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu keluar dari kompleks keraton pada Rabu (19/8/2026). Para abdi dalem mengangkat perangkat gamelan dari Sasana Handrawina untuk membawanya menuju lokasi pelaksanaan Sekaten.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, memimpin prosesi tersebut. Rombongan membawa gamelan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil. Setelah itu, perjalanan berlanjut melewati Alun-alun Utara hingga mencapai Masjid Agung Solo.
Keraton sebelumnya memindahkan dua perangkat gamelan tersebut dari Pendopo Parangkarso menuju Sasana Handrawina. Kondisi bangunan di lokasi lama membutuhkan perhatian karena masuk dalam rencana revitalisasi. Selain itu, keberadaan banyak kelelawar menjadi persoalan lain di kawasan tersebut.
Setelah prosesi selesai, Kyai Guntur Sari menempati Bangsal Pagongan sisi utara. Sementara itu, Kyai Guntur Madu berada di Bangsal Pagongan bagian selatan.
Penabuhan Berlangsung hingga Puncak Maulid Nabi
Keraton Solo menghadirkan Gamelan Sekaten Keraton Solo sebagai bagian dari rangkaian menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut Gusti Moeng, tradisi Sekaten memiliki perjalanan sejarah panjang yang telah berkembang sejak masa Kesultanan Demak.
Para abdi dalem memainkan gamelan sesuai jadwal selama rangkaian berlangsung. Jadwal tersebut juga menyesuaikan waktu ibadah dan tradisi menjelang malam Jumat. Setelah jeda, penabuhan kembali berlangsung seusai salat Jumat.
Secara umum, kondisi kedua gamelan pusaka masih terjaga. Perangkat tersebut memiliki sejumlah instrumen, antara lain gong, bedug, kempyang, dan saron. Keraton juga melakukan penggantian terhadap bagian yang mengalami kerusakan. Salah satunya menyangkut saron yang pecah dan membutuhkan komponen baru.
Tradisi penabuhan gamelan di Masjid Agung akhirnya memiliki arti yang berbeda bagi setiap pengunjung. Sebagian warga datang untuk menikmati warisan budaya sekaligus suasana Sekaten. Sementara bagi perantau, suara Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu dapat membuka kembali ingatan tentang masa kecil serta kehidupan mereka di Solo.
Dengan demikian, keberadaan gamelan pusaka dalam rangkaian Sekaten tidak hanya menjaga tradisi Keraton Solo. Alunan instrumen tersebut juga menjadi penghubung antara sejarah, kehidupan masyarakat, nilai keagamaan, dan kenangan yang terus bertahan lintas generasi.