Fadli Zon – secara resmi membuka kegiatan Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-50 UNS sekaligus momentum reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Lebih lanjut, acara tersebut mengusung tema “Merajut Pelangi Budaya Nusantara,” yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. Dengan demikian, tema ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mengintegrasikan budaya ke dalam kehidupan akademik dan sosial masyarakat.
Ragam Kegiatan Budaya sebagai Media Edukasi dan Apresiasi
Dalam pelaksanaannya, penyelenggara menghadirkan berbagai aktivitas kebudayaan yang beragam. Misalnya, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan wayang beber tani yang sarat akan nilai tradisional. Di sisi lain, pertunjukan tersebut juga berfungsi sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda.
Selain itu, panitia turut menggelar pameran arsip sejarah, koleksi keris, naskah kuno, serta berbagai artefak museum. Dengan kata lain, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memahami perjalanan budaya Indonesia secara lebih mendalam.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UNS juga mengambil peran aktif. Tidak hanya itu, mereka menampilkan berbagai karya seni budaya yang mencerminkan kreativitas generasi muda. Sementara itu, alumni dan mahasiswa lainnya berpartisipasi dalam pameran UMKM serta program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA). Oleh karena itu, kegiatan ini menciptakan sinergi antara budaya, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Foto: Dok. Kemenbud.
Peran Perguruan Tinggi dalam Memajukan Kebudayaan Nasional
Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan nasional. Lebih jauh lagi, ia menilai UNS berhasil menciptakan ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi budaya, tetapi juga sarana edukasi yang memperkuat kesadaran kolektif. Di samping itu, perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai pusat inovasi budaya yang mampu mengadaptasi nilai tradisional ke dalam konteks modern.
Budaya sebagai Pilar Strategis Bangsa
Pada kesempatan yang sama, Fadli Zon menyampaikan orasi kebudayaan. Dalam hal ini, ia menekankan bahwa budaya merupakan kekuatan strategis bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat perlu berperan aktif dalam memajukan kebudayaan nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi. Artinya, negara memiliki kewajiban untuk mendukung masyarakat dalam memelihara serta mengembangkan nilai budaya. Sejalan dengan itu, upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan agar budaya Indonesia tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Sinergi Budaya, Pendidikan, dan Ekonomi Kreatif
Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa menunjukkan adanya keterkaitan antara budaya dan sektor lainnya. Sebagai contoh, pameran UMKM dan program kewirausahaan mahasiswa memperlihatkan bahwa budaya dapat menjadi sumber inovasi ekonomi.
Tidak hanya berhenti di situ, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dengan kata lain, keterlibatan akademisi, pelaku budaya, dan pelaku usaha menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara produktif.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa di UNS mencerminkan upaya nyata dalam pelestarian budaya nasional. Dengan berbagai kegiatan yang edukatif, acara ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya budaya sebagai identitas bangsa.
Akhirnya, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, budaya tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan berkontribusi di tingkat global.