Aturan Perjalanan China yang semakin ketat mulai 15 September 2026 memunculkan perhatian terhadap kemungkinan perubahan arus wisatawan asal Negeri Tirai Bambu ke Indonesia. China selama ini termasuk pasar penting bagi pariwisata nasional. Meski demikian, perubahan kebijakan tersebut tidak serta-merta berarti kunjungan wisatawan China ke Indonesia akan mengalami penurunan besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 156.748 wisatawan China datang ke Indonesia pada Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 8,45 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode itu, China menempati urutan ketiga sebagai negara penyumbang wisatawan mancanegara terbesar ke Indonesia. Posisi pertama dan kedua masing-masing di tempati Malaysia dan Australia.
Karena itu, perubahan aturan perjalanan di China menjadi salah satu perkembangan yang patut di perhatikan pelaku pariwisata Indonesia. Namun, Indonesia juga memiliki peluang untuk mengubah pendekatan dengan tidak hanya mengejar besarnya jumlah kunjungan.
Dampak Aturan Perjalanan China Dinilai Terbatas
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azahari, memandang pembatasan perjalanan bukan sesuatu yang benar-benar baru di China. Pemerintah negara tersebut sebelumnya telah menjalankan sejumlah pembatasan terhadap kelompok tertentu.
Menurut Azril, aturan tersebut terutama berkaitan dengan aparatur pemerintah serta pegawai perusahaan milik negara. China berkepentingan menjaga sumber daya manusia yang berhubungan dengan bidang strategis, termasuk teknologi.
Oleh karena itu, Azril memperkirakan aturan perjalanan China tetap membawa konsekuensi bagi pariwisata Indonesia. Akan tetapi, ia menilai pengaruhnya tidak akan terlalu besar.
Situasi tersebut sekaligus memberikan alasan bagi Indonesia untuk melihat pasar wisatawan China secara lebih luas. Alih-alih hanya menghitung berapa banyak wisatawan yang datang, industri pariwisata dapat meningkatkan manfaat ekonomi dari setiap perjalanan wisatawan.
Indonesia Bisa Mengubah Fokus Strategi Pariwisata
Azril mendorong Indonesia untuk mengembangkan pariwisata berdasarkan karakter dan kebutuhan wisatawan. Menurutnya, perkembangan industri saat ini telah bergerak menuju konsep customized tourism.
Konsep tersebut menempatkan perilaku dan ketertarikan wisatawan sebagai bagian penting dalam penyusunan produk perjalanan. Dengan demikian, destinasi tidak hanya menawarkan tempat wisata populer kepada sebanyak mungkin pengunjung.
Wisata minat khusus menjadi salah satu sektor yang dapat memperoleh perhatian lebih besar. Setiap wisatawan memiliki alasan perjalanan yang berbeda, sehingga destinasi dapat menyediakan pengalaman berdasarkan kebutuhan tersebut.
Salah satu contohnya ialah wisata kesehatan atau health tourism. Azril melihat kategori tersebut memiliki potensi besar seiring perubahan kebutuhan wisatawan.
Pendekatan seperti ini juga dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap jumlah kunjungan semata. Dengan produk yang lebih spesifik, sektor pariwisata memiliki kesempatan meningkatkan nilai ekonomi dari wisatawan yang datang.

ilustrasi haikou china.
Lama Tinggal Wisatawan Jadi Faktor Penting
Selain profil wisatawan, durasi kunjungan menjadi indikator yang perlu mendapat perhatian. Semakin lama seseorang berada di Indonesia, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi selama perjalanan.
BPS mencatat rata-rata wisatawan mancanegara yang meninggalkan Indonesia pada Juli 2026 telah menghabiskan 11,05 malam di Tanah Air. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 10,25 malam.
Azril berharap Indonesia mampu mendorong wisatawan untuk menikmati perjalanan yang lebih panjang. Durasi kunjungan dapat bertambah hingga dua minggu atau bahkan lebih apabila destinasi menyediakan produk dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung.
Namun, lama kunjungan bukan satu-satunya ukuran. Besarnya pengeluaran wisatawan juga memiliki peran penting.
Wisatawan yang menghabiskan waktu lebih panjang sekaligus mengeluarkan uang lebih banyak dapat menghasilkan manfaat ekonomi lebih luas. Belanja tersebut berpotensi mengalir ke berbagai sektor, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga usaha masyarakat di sekitar destinasi.
Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Perlu Diperkuat
Azril juga menyoroti kontribusi industri pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menurutnya, kontribusi sektor tersebut masih berada di bawah lima persen.
Karena itu, Indonesia perlu melihat keberhasilan pariwisata melalui beberapa ukuran sekaligus. Jumlah wisatawan memang tetap relevan, tetapi durasi perjalanan, pengeluaran selama berwisata, serta kontribusi terhadap perekonomian juga perlu menjadi perhatian.
Pada saat yang sama, perubahan ekonomi, politik, dan teknologi global terus memengaruhi pola perjalanan internasional. Kebijakan suatu negara dapat mengubah pergerakan kelompok wisatawan tertentu dalam waktu relatif cepat.
Azril mengaitkan aturan China dengan perhatian negara tersebut terhadap perlindungan sektor teknologi. Menurutnya, China berusaha menjaga pihak-pihak yang mempunyai hubungan dengan teknologi strategis agar informasi penting tidak berpindah ke pihak lain.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak perlu hanya memusatkan perhatian pada potensi berkurangnya jumlah wisatawan akibat aturan perjalanan China. Pemerintah dan industri pariwisata justru dapat memperluas strategi dengan mengembangkan wisata minat khusus, memperpanjang masa kunjungan, serta meningkatkan pengeluaran wisatawan.
Pada akhirnya, kemampuan menciptakan pengalaman perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung dapat menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing pariwisata Indonesia di tengah perubahan kebijakan dan perilaku wisatawan global.