Kunjungan Putri Mahkota Victoria ke Indonesia akan berlangsung pada 4–8 September 2026 dengan membawa agenda pembangunan berkelanjutan di sejumlah wilayah. Pewaris takhta Kerajaan Swedia tersebut datang dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP) dan akan menjalani rangkaian kegiatan di Jakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Victoria Ingrid Alice Désirée telah mengemban peran sebagai Goodwill Ambassador UNDP sejak Oktober 2023. Melalui peran tersebut, ia ikut mendorong perhatian publik serta keterlibatan berbagai pihak dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
UNDP Indonesia menjadwalkan kunjungan Victoria mulai Jumat (4/9/2026) hingga Selasa (8/9/2026). Selama berada di Tanah Air, ia akan melihat berbagai inisiatif lokal yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga inovasi.
Administrator UNDP Alexander De Croo menilai Indonesia memiliki banyak solusi inovatif yang lahir dari masyarakat untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan. Inisiatif tersebut mencakup aksi menghadapi perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, transformasi digital, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Melalui kunjungan ini, Victoria berkesempatan menyaksikan secara langsung berbagai solusi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kontribusi masyarakat di tingkat lokal dalam mempercepat pencapaian SDGs secara global.
Agenda Putri Mahkota Victoria di Jakarta
Jakarta menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian kunjungan Putri Mahkota Victoria ke Indonesia. Di ibu kota, Victoria akan menemui sejumlah pihak yang memiliki peran dalam agenda pembangunan.
Pertemuan tersebut melibatkan unsur pemerintah, pelaku sektor swasta, mitra pembangunan, pemimpin muda, hingga perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam sejumlah pertemuan itu, Victoria dan para pemangku kepentingan akan membahas pemanfaatan inovasi untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Selain itu, transformasi digital dan skema blended finance atau pendanaan gabungan juga masuk dalam agenda pembahasan.
Pendanaan gabungan dapat membuka peluang kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung program pembangunan. Dengan menggabungkan sejumlah sumber pembiayaan, berbagai proyek yang memiliki dampak sosial dan lingkungan berpeluang memperoleh dukungan yang lebih luas.
SDGs sendiri menjadi kerangka pembangunan global yang PBB perkenalkan pada 2015. Agenda tersebut mencakup 17 tujuan dan 169 target dengan sasaran pencapaian hingga 2030.
Berbagai tujuan tersebut mencakup dimensi sosial, ekonomi, lingkungan, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Karena itu, keterlibatan pemerintah saja tidak cukup. Dunia usaha, masyarakat, generasi muda, organisasi internasional, serta berbagai kelompok lainnya juga memiliki peran penting.
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella menyoroti kuatnya kemitraan dan tekad masyarakat dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia terus berupaya menciptakan masa depan yang lebih inklusif, tangguh, sekaligus berkelanjutan.
UNDP juga memandang kedatangan Victoria sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kreativitas, inovasi, dan kepemimpinan masyarakat Indonesia dalam menghasilkan berbagai solusi pembangunan.

Goodwill Ambassador UNDP, Putri Mahkota Victoria dari Swedia, saat kunjungan sebelumnya dengan UNDP, berinteraksi dengan komunitas dan mitra yang bekerja untuk memajukan pembangunan berkelanjutan.
Victoria Akan Melihat Upaya Pelestarian Alam di NTT
Rangkaian perjalanan Victoria selanjutnya mencakup Nusa Tenggara Timur. Di wilayah ini, fokus agenda akan mengarah pada hubungan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Victoria akan menemui komunitas serta mitra yang menjalankan berbagai kegiatan untuk menjaga kekayaan alam Indonesia. Ia juga akan melihat bagaimana masyarakat mengembangkan peluang ekonomi berkelanjutan dengan memanfaatkan konsep ekowisata dan pembangunan berbasis alam.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Ekowisata, misalnya, dapat menciptakan sumber penghasilan sekaligus mendorong masyarakat mempertahankan kelestarian ekosistem di wilayahnya.
Meski demikian, hingga pengumuman agenda tersebut, UNDP Indonesia belum memaparkan tanggal maupun lokasi spesifik yang akan Victoria kunjungi selama berada di NTT.
Kunjungan ke Lombok Temui Perempuan hingga Pelaku UMKM
Selain Jakarta dan NTT, Putri Mahkota Victoria juga memiliki jadwal kegiatan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB mengumumkan bahwa Victoria akan berada di Lombok pada Sabtu (5/9/2026) dan Minggu (6/9/2026).
Agenda di Lombok akan membawa Victoria lebih dekat dengan masyarakat serta kelompok yang aktif menggerakkan pembangunan dari tingkat komunitas.
Ia dijadwalkan menemui perempuan penggerak komunitas, kader Posyandu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masyarakat adat yang berperan dalam menjaga lingkungan, serta komunitas yang tinggal di kawasan pesisir.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pemerintah daerah ingin memberikan kesempatan kepada Victoria untuk melihat kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, kunjungan tersebut tidak hanya berisi pertemuan formal, tetapi juga menghadirkan interaksi dengan kelompok masyarakat yang menjalankan berbagai kegiatan di lapangan.
Pertemuan dengan pelaku UMKM dan perempuan penggerak komunitas juga dapat memperlihatkan peran ekonomi lokal dalam mendukung pembangunan inklusif. Sementara itu, interaksi dengan masyarakat adat serta komunitas pesisir akan memberikan gambaran mengenai hubungan antara kehidupan masyarakat dan perlindungan lingkungan.
Membawa Isu Lokal ke Agenda Pembangunan Global
Rangkaian kunjungan Putri Mahkota Victoria ke Indonesia membawa pesan mengenai pentingnya tindakan di tingkat lokal dalam menjawab persoalan pembangunan global.
Indonesia memiliki keragaman geografis, budaya, sosial, serta sumber daya alam yang sangat besar. Kondisi tersebut melahirkan tantangan sekaligus berbagai inovasi yang tumbuh dari masyarakat.
Melalui perjalanan ke Jakarta, NTT, dan Lombok, Victoria akan memperoleh gambaran dari beberapa sisi. Agenda di Jakarta menitikberatkan dialog dengan pemangku kepentingan mengenai inovasi, teknologi, dan pembiayaan pembangunan. Sementara itu, perjalanan ke kawasan Nusa Tenggara menyoroti praktik pembangunan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lingkungan.
Kunjungan selama 4–8 September 2026 itu sekaligus menjadi bagian dari upaya UNDP untuk meningkatkan perhatian terhadap SDGs. Dengan target global 2030 yang semakin dekat, kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, dunia usaha, masyarakat lokal, serta generasi muda memiliki peran penting dalam mempercepat kemajuan pembangunan berkelanjutan.