Asal-usul Desa Pikat Klungkung memiliki kaitan erat dengan kisah mepikat atau aktivitas mencari dan menangkap burung yang berkembang dalam cerita masyarakat setempat. Desa yang berada di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, tersebut menyimpan jejak cerita masa lalu melalui sebuah monumen yang kini berdiri di kawasan lapangan umum desa.
Desa Pikat merupakan satu dari 12 desa yang berada di Kecamatan Dawan. Nama desa ini memiliki latar belakang tersendiri. Berdasarkan prasasti sejarah pada monumen setempat, masyarakat mengenal kata “Pikat” berasal dari istilah “mepikat”, yakni kegiatan mencari atau menangkap burung.
Kini, masyarakat maupun pengunjung dapat mengenali cerita tersebut melalui Patung Mepikat. Keberadaan patung itu sekaligus memperkenalkan salah satu bagian dari sejarah Desa Pikat kepada orang yang baru pertama kali datang ke wilayah tersebut.
Patung Mepikat Menjadi Penanda Sejarah Desa
Patung Mepikat menempati area Lapangan Umum Desa Pikat. Monumen tersebut menampilkan sosok bangsawan yang membawa sangkar beserta seekor burung. Gambaran itu memiliki hubungan langsung dengan cerita mengenai awal penamaan desa.
Selain mempercantik kawasan lapangan, patung tersebut membantu masyarakat memahami cerita yang melatarbelakangi nama Pikat. Prasasti sejarah yang menyertai monumen juga memberikan penjelasan mengenai hubungan antara nama desa dan istilah mepikat.
Masyarakat setempat telah mengenal cerita tersebut secara turun-temurun. Para tokoh masyarakat menceritakan kembali kisah mengenai seorang anggota keluarga kerajaan yang gemar mencari burung, khususnya burung perkutut.
Kisah Anggota Keluarga Kerajaan Mencari Burung
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, kisah itu bermula pada masa kerajaan. Seorang anggota keluarga raja memiliki kegemaran mepikat burung perkutut.
Pada suatu pagi, ia meninggalkan istana sambil membawa perlengkapan untuk mencari burung. Perjalanannya kemudian mengarah ke wilayah timur. Dalam perjalanan tersebut, ia mendengar kicauan burung dari kejauhan.
Suara itu membuatnya mencari sumber kicauan tersebut. Setelah menemukan lokasi yang dianggap tepat, ia menyiapkan perlengkapan untuk memikat burung. Ia juga memanjatkan doa agar usahanya berhasil.
Cerita turun-temurun menyebut usahanya segera membuahkan hasil. Atas izin Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ia berhasil mendapatkan burung perkutut yang menjadi incarannya.
Keberhasilan tersebut kemudian melahirkan ungkapan rasa syukur. Masyarakat mengaitkan lokasi tempat anggota keluarga kerajaan itu mendapatkan burung dengan nama Pikat. Dari cerita inilah nama Desa Pikat kemudian dikenal.

Monumen mepikat di Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali.
Cerita Mepikat Terus Hidup di Tengah Masyarakat
Kisah mengenai asal-usul nama Desa Pikat tidak berhenti sebagai cerita masa lampau. Masyarakat setempat terus mengenalkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Nengah Sumatraman, seorang warga yang berjualan tidak jauh dari Patung Mepikat, turut menjelaskan hubungan antara wilayah tersebut dan aktivitas mencari burung pada masa lalu. Menurut keterangannya, kawasan Desa Pikat dahulu memang menjadi salah satu lokasi yang sering didatangi pencari burung.
Namun, kondisi sekarang telah berubah. Masyarakat Desa Pikat tidak lagi menjalankan aktivitas mepikat seperti dalam cerita masa lalu tersebut. Nengah menjelaskan bahwa kebiasaan itu merupakan bagian dari cerita zaman dahulu dan bukan aktivitas yang masih berlangsung di kalangan warga saat ini.
Dengan demikian, masyarakat kini lebih mengenal mepikat sebagai bagian dari sejarah dan cerita mengenai identitas desa.
Monumen Menjaga Cerita Asal-usul Desa Pikat
Keberadaan Patung Mepikat membuat jejak cerita tersebut dapat terus terlihat di ruang publik. Pengunjung yang datang ke Lapangan Umum Desa Pikat dapat melihat secara langsung representasi kisah yang berkaitan dengan penamaan wilayah tersebut.
Prasasti sejarah yang melengkapi monumen semakin memperjelas makna Patung Mepikat. Perbekel Desa Pikat, I Wayan Navy Sudarsa, tercatat menandatangani prasasti tersebut.
Kini, patung dan prasasti tidak hanya menjadi bagian dari tampilan Lapangan Umum Desa Pikat. Keduanya juga membantu memperkenalkan warisan cerita lokal kepada generasi muda dan masyarakat yang berkunjung.
Cerita tentang seorang anggota keluarga kerajaan, burung perkutut, serta kegiatan mepikat akhirnya menjadi bagian penting dalam penuturan sejarah desa. Walaupun warga tidak lagi menjalankan tradisi menangkap burung tersebut, kisahnya tetap bertahan melalui cerita turun-temurun dan monumen yang berada di tengah desa.
Patung Mepikat pada akhirnya menjadi pengingat mengenai hubungan antara nama sebuah wilayah dan cerita masyarakat pada masa lampau. Melalui monumen itu, asal-usul Desa Pikat Klungkung tetap dapat masyarakat kenali sekaligus menjadi bagian dari warisan cerita lokal yang diteruskan kepada generasi berikutnya.