DataMedia24.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus menghadirkan inovasi yang mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia digital. Salah satu inovasi yang kini menjadi sorotan adalah kemampuan AI menciptakan representasi digital seseorang yang telah meninggal melalui video yang menampilkan wajah, suara, hingga pesan layaknya masih hidup.
Teknologi ini mulai banyak di gunakan di Korea Selatan sebagai cara baru untuk mengenang anggota keluarga yang telah tiada. Di satu sisi, layanan tersebut di anggap mampu memberikan penghiburan emosional bagi keluarga yang di tinggalkan. Namun di sisi lain, kemunculannya memicu perdebatan mengenai etika, dampak psikologis, serta perlindungan terhadap hak individu setelah meninggal dunia.
AI Hadirkan Kenangan Lewat Sosok Digital Orang Tercinta
Pemanfaatan AI untuk menciptakan sosok digital orang yang telah meninggal kini menjadi layanan yang semakin di minati di Korea Selatan. Dengan memanfaatkan foto serta rekaman suara singkat, perusahaan teknologi mampu menghasilkan video yang menampilkan wajah dan suara mendiang seolah kembali menyampaikan pesan kepada keluarganya.
Salah satu kisah datang dari Lee Geon Hui, seorang pekerja kantoran berusia 28 tahun. Ia memanfaatkan layanan tersebut sebagai hadiah bagi ayahnya yang telah lama merindukan sosok sang ayah atau kakek Lee yang meninggal akibat kecelakaan sebelum dirinya lahir.
Lee menyusun sendiri isi pesan yang ingin di sampaikan. Selanjutnya, perusahaan teknologi mengolah naskah tersebut menjadi video menggunakan teknologi AI sehingga sosok digital sang kakek tampak berbicara secara alami.
Dalam tayangan itu, sang kakek menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan semasa hidup sekaligus mengungkapkan rasa bangga terhadap perjalanan hidup putranya.
Awalnya, ayah Lee mengaku enggan menyaksikan video tersebut. Namun setelah menontonnya hingga selesai, ia tidak mampu menahan air mata. Momen tersebut menjadi pengalaman emosional yang sangat berkesan bagi keluarga mereka.
Permintaan Layanan AI Terus Meningkat
Fenomena menghadirkan kembali sosok orang yang telah meninggal menggunakan AI ternyata mendapat sambutan cukup besar di Korea Selatan. Berbagai perusahaan rintisan mulai menawarkan layanan serupa kepada masyarakat.
Salah satunya adalah Vaice, perusahaan yang mengembangkan video memorial berbasis AI. Menurut pihak perusahaan, setiap bulan mereka melayani sekitar 300 pelanggan yang ingin membuat video digital anggota keluarga yang telah wafat.
Mayoritas pelanggan berasal dari kelompok usia 40 hingga 50 tahun. Mereka biasanya ingin menghadirkan kembali sosok orang tua sebagai bentuk penghormatan maupun kenangan bagi anggota keluarga lainnya.
Selain itu, tidak sedikit pelanggan yang membuat video tersebut sebagai hadiah untuk ayah atau ibu mereka dengan menghadirkan kembali figur kakek atau nenek yang telah meninggal.
Proses pembuatannya relatif sederhana. Pelanggan hanya perlu menyediakan beberapa foto serta contoh rekaman suara singkat milik almarhum. Selanjutnya, sistem AI akan menggabungkan berbagai data tersebut menjadi video berdurasi sekitar tiga hingga lima menit.
Biaya layanan di mulai dari 390 dolar AS atau sekitar Rp7 juta. Sebagian besar pelanggan juga memilih menulis sendiri isi pesan yang akan di sampaikan oleh sosok digital tersebut.
Pesan-pesan yang di buat umumnya berisi ungkapan kasih sayang, permintaan maaf atas konflik keluarga yang belum terselesaikan, harapan bagi anggota keluarga yang masih hidup, hingga doa dan dukungan emosional.
Bahkan, sejumlah keluarga mulai memutar video tersebut dalam acara peringatan kematian maupun saat berkumpul bersama pada hari-hari besar keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah tiada.
Teknologi AI Dinilai Membawa Manfaat Sekaligus Tantangan
Di balik manfaat emosional yang di tawarkan, para pakar menilai teknologi ini juga menghadirkan tantangan baru yang perlu di perhatikan secara serius.
Pakar AI dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Yong Man Ro, menilai perkembangan AI telah membuka bentuk pengalaman budaya yang belum pernah ada sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi tersebut juga membawa konsekuensi sosial dan etika yang harus di persiapkan sejak dini.
Menurutnya, semakin luas AI di gunakan dalam kehidupan sehari-hari, semakin besar pula kebutuhan untuk menetapkan batasan yang jelas agar teknologi tetap di manfaatkan secara bertanggung jawab.

Seorang pria di Korea Selatan menyaksikan video mendiang kakeknya yang di buat dengan AI
Pakar Mendorong Regulasi untuk Melindungi Hak Orang yang Telah Meninggal
Sejumlah ahli hukum turut menyoroti perlunya regulasi terkait penggunaan wajah maupun suara seseorang setelah meninggal dunia.
Profesor emeritus Fakultas Hukum Universitas Kyung Hee, Choung Wan, menilai pemerintah perlu menyusun aturan yang mampu melindungi martabat serta hak individu, termasuk setelah seseorang meninggal.
Ia berpendapat bahwa pembuatan versi digital seseorang seharusnya tidak di perbolehkan apabila semasa hidup orang tersebut pernah menyatakan penolakan terhadap penggunaan identitasnya.
Selain itu, aturan juga di nilai penting untuk mengatur pemanfaatan komersial atas wajah, suara, maupun identitas digital seseorang agar tidak di salahgunakan oleh pihak tertentu.
Kekhawatiran Muncul atas Pengembangan Griefbot
Perdebatan semakin berkembang setelah muncul teknologi yang memungkinkan keluarga melakukan percakapan langsung dengan sosok digital orang yang telah meninggal. Teknologi ini di kenal dengan istilah griefbot atau deathbot.
Beberapa perusahaan teknologi di sebut mulai mengembangkan sistem tersebut agar AI tidak hanya menyampaikan pesan satu arah. Tetapi juga mampu merespons percakapan layaknya manusia.
Namun, sejumlah pakar mengingatkan bahwa inovasi tersebut berpotensi menghambat proses berduka yang sehat. Jika seseorang terus berinteraksi dengan representasi digital orang yang telah meninggal, di khawatirkan proses menerima kenyataan kehilangan menjadi lebih sulit.
Karena alasan tersebut, pengembang layanan AI memorial mengaku masih berhati-hati dalam mengembangkan fitur percakapan interaktif. Mereka menyadari bahwa teknologi tersebut memiliki risiko etika yang jauh lebih kompleks di bandingkan video memorial biasa.
Kesimpulan
Teknologi AI yang mampu menghadirkan kembali sosok orang yang telah meninggal menawarkan cara baru bagi keluarga untuk mengenang orang tercinta. Inovasi ini memberikan pengalaman emosional yang mendalam dan menjadi alternatif dalam menjaga kenangan bersama keluarga.
Namun demikian, perkembangan tersebut juga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai etika, hak privasi, serta dampak psikologis bagi masyarakat. Oleh sebab itu, kehadiran regulasi yang jelas menjadi langkah penting agar pemanfaatan teknologi AI tetap memberikan manfaat tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan.