Smartwatch Belum Pakai USB-C sebagai standar pengisian daya meskipun konektor tersebut kini mendominasi berbagai perangkat elektronik modern. Smartphone, tablet, laptop, konsol portabel, headphone, speaker Bluetooth, hingga casing TWS sudah banyak mengandalkan kabel USB-C untuk mengisi baterai.
Apple bahkan meninggalkan konektor Lightning dan mulai membawa USB-C ke lini iPhone sejak iPhone 15. Perubahan tersebut semakin memperkuat posisi USB-C sebagai konektor yang praktis karena satu kabel dapat melayani banyak perangkat.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada pasar jam tangan pintar. Produsen seperti Apple, Samsung, Google, Garmin, Xiaomi, dan Huawei masih mengandalkan sistem pengisian daya khusus. Mereka umumnya memilih charger magnetik atau konektor pogo pin yang menempel pada bagian belakang perangkat.
Keputusan tersebut bukan sekadar strategi untuk mempertahankan aksesori khusus. Sejumlah pertimbangan teknis membuat USB-C belum menjadi pilihan ideal untuk mayoritas smartwatch.
Ketahanan Air Menjadi Pertimbangan Penting
Produsen smartwatch menaruh perhatian besar pada perlindungan perangkat terhadap air. Berbeda dari ponsel yang lebih sering berada di saku atau tangan, smartwatch hampir sepanjang hari menempel pada pergelangan penggunanya.
Kondisi tersebut membuat jam tangan pintar lebih sering menghadapi air dan kelembapan. Keringat ketika berolahraga, hujan, cipratan ketika mencuci tangan, hingga aktivitas berenang menjadi situasi yang umum bagi perangkat wearable.
Bahkan, beberapa smartwatch kelas atas menawarkan kemampuan untuk mendukung aktivitas air seperti snorkeling dan menyelam.
Produsen sebenarnya tetap bisa membuat perangkat dengan port USB-C sekaligus mempertahankan ketahanan air. Banyak smartphone membuktikan hal tersebut melalui sertifikasi IP67, IP68, bahkan IP69. Perusahaan dapat menggunakan perekat, segel, dan konstruksi internal khusus untuk melindungi area konektor.
Namun, smartwatch menghadapi tuntutan desain yang berbeda. Setiap lubang pada bodinya menciptakan area tambahan yang perlu produsen lindungi dari air.
Karena alasan tersebut, menghilangkan port fisik dapat membantu perusahaan menyederhanakan konstruksi perangkat sekaligus meningkatkan perlindungan komponen internal. Charger magnetik dan pogo pin kemudian menjadi alternatif yang lebih praktis.
Smartwatch Menghadapi Tekanan Air Lebih Besar
Selain sertifikasi IP, produsen smartwatch sering mencantumkan rating ketahanan terhadap tekanan air seperti 5 ATM dan 10 ATM.
Rating 5 ATM menunjukkan bahwa perangkat menjalani pengujian terhadap tekanan air statis yang setara dengan kedalaman sekitar 50 meter. Sementara itu, rating 10 ATM merujuk pada tekanan statis yang setara dengan kedalaman sekitar 100 meter.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti pengguna dapat langsung membawa setiap smartwatch menyelam hingga kedalaman 50 atau 100 meter.
Produsen tetap menentukan jenis aktivitas air yang sesuai berdasarkan rancangan perangkat, metode pengujian, serta standar yang mereka gunakan. Oleh sebab itu, pengguna perlu mengikuti rekomendasi resmi untuk setiap model.
Kebutuhan menghadapi air dan tekanan inilah yang membuat desain tanpa port menjadi pilihan menarik bagi perusahaan.
Ruang di Dalam Smartwatch Sangat Terbatas
Ukuran juga menjelaskan mengapa smartwatch belum pakai USB-C secara luas.
Port USB-C mungkin terlihat sangat kecil ketika berada pada sisi smartphone atau laptop. Namun, komponen tersebut memerlukan ruang yang cukup besar ketika produsen memasukkannya ke perangkat setipis jam tangan.
Perusahaan harus memanfaatkan setiap milimeter ruang di dalam smartwatch secara efisien. Mereka perlu menempatkan baterai, chipset, antena, motor getar, mikrofon, speaker, layar, dan berbagai sensor kesehatan dalam bodi berukuran mungil.
Sensor detak jantung dan teknologi pemantauan kesehatan lainnya juga membutuhkan posisi tertentu agar dapat bekerja dengan optimal.
Jika produsen menambahkan USB-C, mereka tidak hanya membutuhkan lubang konektor. Perusahaan juga harus menyediakan struktur pendukung, komponen elektronik, serta perlindungan tambahan di sekitar port.
Ruang tersebut bisa saja mengurangi kapasitas baterai atau membatasi komponen lain.
Masalah ini semakin penting bagi fitness tracker dan smartwatch yang mengejar desain tipis serta ringan. Karena itu, konektor pengisian magnetik yang memanfaatkan permukaan belakang perangkat menawarkan solusi yang lebih fleksibel.

iPhone dan HP Android sudah kompak menggunakan USB-C untuk pengisian daya, kenapa smartwatch belum?
Bentuk Smartwatch Tidak Memiliki Standar yang Sama
Smartphone memiliki bentuk yang relatif seragam. Mayoritas menggunakan bodi persegi panjang dengan sisi cukup lebar untuk menampung USB-C.
Sebaliknya, smartwatch menawarkan bentuk yang sangat beragam.
Apple Watch menggunakan rancangan kotak dengan sudut membulat. Banyak Galaxy Watch memakai desain lingkaran. Sementara itu, sejumlah smartband menggunakan bodi panjang dan ramping.
Produsen juga menempatkan sensor kesehatan pada bagian belakang dengan susunan yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu merancang sistem charging berdasarkan bentuk dan konstruksi setiap produk.
Akibatnya, pasar smartwatch sekarang memiliki banyak jenis charger magnetik dan pogo pin. Bentuknya terkadang terlihat serupa, tetapi pengguna belum tentu dapat menggunakan satu charger untuk perangkat dari merek atau seri berbeda.
Kondisi inilah yang membuat standardisasi charger smartwatch jauh lebih rumit dibandingkan smartphone.
Ada Smartwatch yang Sudah Menggunakan USB-C
Walaupun belum populer, beberapa perusahaan sudah mencoba memasang USB-C langsung pada smartwatch.
Salah satu contohnya yaitu boAt Storm Call 4 yang meluncur di India pada Mei 2026. Produk tersebut menyediakan USB-C sehingga pemiliknya dapat memakai kabel USB-C biasa untuk mengisi baterai.
Colmi P80 juga menawarkan pendekatan serupa. Produsen menambahkan penutup berbahan karet pada area USB-C untuk membantu mengurangi risiko masuknya debu dan air.
Kehadiran beberapa perangkat tersebut membuktikan bahwa produsen secara teknis dapat memasang USB-C pada smartwatch.
Namun, merek-merek besar sejauh ini belum mengikuti pendekatan tersebut secara luas. Mereka masih melihat charger khusus sebagai pilihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan desain perangkat wearable.
Standardisasi USB-C Belum Tentu Menjadi Jawaban
Keinginan menggunakan satu kabel untuk seluruh gadget memang menawarkan kenyamanan. Pengguna tidak perlu membawa banyak charger ketika bepergian dan dapat mengurangi jumlah aksesori yang tersimpan di rumah.
Namun, penerapan standar tunggal pada smartwatch juga membawa konsekuensi.
Research Manager International Data Corporation (IDC), Jitesh Ubrani, menilai regulasi yang mewajibkan satu teknologi pengisian daya berpotensi membatasi inovasi.
Jika regulator mewajibkan produsen memakai konektor tertentu, perusahaan harus menyesuaikan konstruksi jam tangan dengan standar tersebut. Ketentuan itu berpotensi memengaruhi ketebalan, ukuran, bentuk, kapasitas internal, hingga fitur yang dapat perusahaan masukkan ke dalam produknya.
Dengan demikian, persoalan charger smartwatch tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan menggunakan satu kabel.
Produsen harus mempertimbangkan keseimbangan antara ukuran, ketahanan terhadap air, ruang baterai, sensor kesehatan, serta kebebasan merancang bentuk perangkat.
Selama berbagai pertimbangan tersebut masih menjadi prioritas, charger magnetik dan pogo pin kemungkinan tetap mendominasi pasar jam tangan pintar. USB-C memang menawarkan kepraktisan, tetapi karakter smartwatch membuat penerapannya tidak sesederhana pada smartphone, tablet, atau laptop.