Kondisi USS Abraham Lincoln menjadi sorotan saat kapal induk Amerika Serikat itu singgah di Thailand pada Rabu (2/9/2026). Setelah menjalani penugasan selama berbulan-bulan, sejumlah bagian lambung kapal memperlihatkan korosi yang cukup jelas. Karat tampak menyebar di berbagai area kapal, termasuk bagian depan hingga sisi belakang.

Penampilan tersebut memunculkan perhatian karena USS Abraham Lincoln merupakan salah satu kapal perang besar milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Namun, kondisi fisik seperti itu tidak serta-merta menunjukkan kapal mengalami kerusakan serius.

Kapal tersebut telah menjalani operasi panjang sejak meninggalkan San Diego pada November tahun lalu. Total waktu yang dihabiskan di laut mencapai sekitar 286 hari. Selama periode itu, kapal juga ikut terlibat dalam operasi militer dan blokade terhadap Iran di kawasan Timur Tengah.

Paparan air asin dalam waktu lama menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat munculnya korosi. Selain itu, gelombang, kelembapan, serta minimnya kesempatan melakukan perawatan besar selama operasi turut memengaruhi kondisi permukaan baja kapal.

Operasi Panjang Mempercepat Korosi pada Lambung

Mantan kapten Angkatan Laut Amerika Serikat Carl Schuster menilai kemunculan karat pada kapal yang menjalani operasi panjang bukan sesuatu yang luar biasa.

Pengalamannya bertugas di kapal induk kelas Nimitz membuat Schuster memahami bahwa bagian garis air sangat rentan mengalami korosi. Menurutnya, kapal yang terus berada di laut selama lebih dari dua bulan sudah dapat menunjukkan tanda-tanda karat pada bagian tersebut.

USS Abraham Lincoln menjalani masa operasi jauh lebih lama dari periode tersebut. Karena itu, paparan lingkungan laut secara terus-menerus membuat lapisan pelindung kapal menghadapi tekanan besar.

Bagian lambung yang sering terkena air laut memiliki risiko korosi lebih tinggi. Ketika kapal melaju dalam kondisi ombak besar, air asin terus menghantam permukaan baja sehingga lapisan cat pelindung dapat terkikis secara bertahap.

Pembersihan Karat Membutuhkan Proses Bertahap

Menghilangkan korosi pada kapal induk tidak dapat dilakukan hanya dengan mengecat ulang permukaannya. Kru harus melewati beberapa tahapan agar karat tidak kembali muncul dalam waktu singkat.

Pertama, petugas perlu membersihkan dan mengampelas bagian baja yang telah terkena korosi. Setelah permukaan siap, mereka mengaplikasikan lapisan dasar antikarat.

Kru kemudian menambahkan lapisan pelindung berikutnya sebelum menutup permukaan dengan cat berwarna abu-abu khas kapal Angkatan Laut.

Schuster memperkirakan pekerjaan menyeluruh dapat membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Durasi itu diperlukan apabila kru ingin menangani seluruh titik korosi yang tampak pada kapal.

Namun, mereka tidak dapat melakukan semua pekerjaan tersebut selama kapal masih aktif menjalankan misi di laut.

Kondisi USS Abraham Lincoln

Kapal induk bertenaga nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln (CVN-72), terlihat di dekat Pelabuhan Laem Chabang, Teluk Thailand, pada 2 September 2026. Kapal tersebut berada di sekitar Kota Pattaya, Thailand.

Persinggahan di Thailand Jadi Kesempatan Melakukan Perawatan

USS Abraham Lincoln tiba di Pelabuhan Laem Chabang yang berada di Teluk Thailand, sebelah selatan Bangkok. Kunjungan tersebut di perkirakan berlangsung hanya beberapa hari.

Selain memberikan waktu istirahat kepada awak kapal, persinggahan ini membuka kesempatan bagi kru untuk memperbaiki beberapa bagian yang paling membutuhkan perhatian.

Karena waktu terbatas, petugas kemungkinan tidak akan menangani semua area yang berkarat. Mereka akan lebih dahulu mengerjakan bagian yang memiliki tingkat kerusakan paling tinggi.

Haluan dan bagian depan lambung menjadi area yang berpotensi mendapat prioritas. Kedua bagian tersebut menerima benturan air paling besar ketika kapal bergerak melintasi laut.

Tekanan gelombang yang terus-menerus dapat mengikis lapisan pelindung permukaan kapal. Akibatnya, baja menjadi lebih mudah terkena korosi.

Perawatan Garis Air Tidak Bisa Dilakukan Sembarangan

Beberapa pekerjaan pemeliharaan masih dapat di lakukan ketika USS Abraham Lincoln berlayar. Namun, perawatan pada bagian garis air membutuhkan kondisi berbeda.

Kapal harus berada dalam posisi stabil agar kru dapat bekerja dengan aman dan efektif. Gelombang laut yang terus bergerak membuat proses pengampelasan dan pengecatan menjadi jauh lebih sulit.

Karena alasan tersebut, pelabuhan menjadi lokasi yang lebih memungkinkan untuk menangani korosi di bagian bawah lambung.

Meski karat merupakan konsekuensi umum dari aktivitas kapal di laut, kru tidak boleh membiarkannya berkembang tanpa penanganan.

Korosi dapat terus menyebar apabila permukaan baja tidak segera di bersihkan dan di lindungi kembali.

Korosi Bisa Mengurangi Kekuatan Baja

Masalah karat tidak hanya berkaitan dengan penampilan kapal. Dalam jangka panjang, korosi dapat menurunkan kualitas dan kekuatan material baja.

Jika kru membiarkannya terlalu lama, kerusakan dapat berkembang ke bagian yang memiliki fungsi penting. Area seperti dek, jalur pergerakan awak, hingga perangkat pengaman dapat ikut terdampak.

Oleh karena itu, pemeliharaan rutin menjadi bagian penting dalam operasional kapal perang yang menjalani penugasan panjang.

Angkatan Laut perlu menjaga keseimbangan antara kesiapan tempur dan kebutuhan perawatan. Semakin lama kapal berada di laut, semakin besar pula tuntutan pemeliharaan terhadap struktur dan sistem pendukungnya.

Penugasan Panjang Juga Menjadi Tantangan bagi Awak

Durasi operasi USS Abraham Lincoln tidak hanya memengaruhi kondisi kapal. Masa tugas yang berkepanjangan juga menimbulkan tekanan bagi para awak.

Sejumlah laporan menyinggung persoalan moral kru dan keterbatasan pasokan selama penugasan. Selain itu, setidaknya satu anggota kru di laporkan jatuh ke laut.

Persinggahan di Thailand menjadi kesempatan penting bagi awak untuk memperoleh waktu istirahat setelah berbulan-bulan menjalankan tugas.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menilai masa penempatan USS Abraham Lincoln belum termasuk terlalu lama. Hingga kapal tiba di Thailand, ia belum memberikan tanggapan khusus mengenai kondisi lambung kapal yang terlihat berkarat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kapal perang berukuran besar tetap menghadapi persoalan pemeliharaan ketika menjalani operasi panjang. Meskipun teknologi dan sistemnya canggih, paparan air laut tetap dapat memengaruhi struktur luar kapal jika perawatan besar harus di tunda selama masa tugas.