Kuburan Batu Kuno Dayak di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, menjadi salah satu peninggalan budaya yang menunjukkan kehidupan masyarakat leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun lalu. Situs megalitik tersebut berada di tengah kawasan hutan hujan tropis yang masih terjaga dan menggambarkan hubungan erat antara masyarakat Dayak masa lampau dengan lingkungan alam sekitarnya.

Peninggalan bersejarah ini berada di sepanjang kawasan aliran Sungai Bahau, wilayah yang sejak dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat. Keberadaan makam batu tersebut tidak hanya menyimpan kisah tentang tradisi pemakaman kuno, tetapi juga menjadi bukti adanya peradaban lama yang berkembang di pedalaman Kalimantan Utara.

Situs kuburan batu kuno Dayak terletak di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango. Lokasi tepatnya berada di seberang Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu. Pengunjung yang ingin melihat langsung peninggalan tersebut harus menggunakan perahu ketinting dari Long Alango dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.

Perjalanan menuju lokasi menghadirkan pengalaman tersendiri. Sepanjang jalur sungai, wisatawan dapat menikmati panorama hutan tropis yang masih alami, aliran sungai dengan jeram yang menantang, serta berbagai jenis burung liar yang menghuni kawasan tersebut.

Bentuk dan Keunikan Situs Makam Batu Leluhur Dayak

Di lokasi tersebut terdapat sekitar lima hingga enam kuburan batu dengan ukuran yang cukup besar. Beberapa makam memiliki tinggi lebih dari satu meter. Bagian utama makam berbentuk seperti mangkuk batu berukuran besar yang tertutup oleh susunan batu tebal di sekelilingnya.

Batu-batu penyusun makam memiliki diameter sekitar satu setengah jengkal tangan orang dewasa. Di bagian dalam wadah batu tersebut tersimpan tulang belulang manusia yang menjadi bagian dari tradisi pemakaman masyarakat Dayak pada masa lampau.

Kepala Adat Desa Long Berini, Irang Lawai, menjelaskan bahwa masyarakat setempat sudah mengetahui keberadaan situs tersebut sejak puluhan tahun lalu. Warga pertama kali menemukan makam kuno itu sekitar tahun 1933 ketika masyarakat membuka kawasan untuk membangun rumah dan pondok ladang.

Menurut Irang, penemuan tersebut menjadi awal masyarakat memahami bahwa kawasan itu menyimpan peninggalan leluhur yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Tradisi pemakaman yang digunakan masyarakat zaman dahulu juga berbeda dengan kebiasaan saat ini. Kepala Desa Long Berini, Sili, menjelaskan bahwa masyarakat lama tidak langsung menguburkan jenazah ke dalam tanah.

Mereka terlebih dahulu menempatkan jenazah di dalam wadah kayu hingga mengalami proses pembusukan. Setelah itu, keluarga mengambil tulang-belulang tersebut, membersihkannya, lalu memasukkannya ke dalam kuburan batu melalui rangkaian ritual adat.

Kuburan Batu Kuno Dayak

Kuburan Batu Kuno.

Makam Batu Menyimpan Tulang Banyak Anggota Keluarga

Kuburan batu kuno Dayak memiliki keunikan karena satu makam tidak hanya menyimpan sisa jasad satu orang. Masyarakat adat memasukkan tulang dari beberapa individu dalam satu wadah batu yang sama.

Sili mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengikuti proses pembersihan salah satu makam batu di kawasan hulu kampung. Saat masyarakat membuka makam tersebut, mereka menemukan 11 tengkorak dengan ukuran berbeda-beda.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu menggunakan kuburan batu sebagai tempat penyimpanan tulang bagi beberapa anggota keluarga atau kelompok tertentu.

Masyarakat meyakini situs makam batu tersebut merupakan peninggalan suku Dayak Ngorek, kelompok yang menjadi penghuni awal kawasan tersebut. Setelah terjadi perpindahan masyarakat, wilayah itu kemudian di huni oleh suku Dayak Kenyah.

Perubahan penghuni kawasan turut memengaruhi keberadaan benda-benda tambahan di sekitar makam. Beberapa situs menemukan artefak berupa tempayan keramik kuno dan gong yang di percaya masyarakat sebagai bentuk penghormatan maupun bekal simbolis bagi orang yang telah meninggal.

Potensi Wisata Budaya dan Tantangan Pelestarian

Situs kuburan batu kuno Dayak tidak hanya berada di satu lokasi. Masyarakat menemukan peninggalan serupa di sejumlah kawasan lain, seperti Long Pulung, Kuala Sungai Berini, hingga wilayah perbukitan dan pegunungan yang berada di dalam kawasan hutan.

Bentuk makam juga memiliki variasi. Sebagian berbentuk bulat menyerupai mangkuk batu, sementara sebagian lainnya berbentuk kotak dengan dukungan tiang batu yang berdiri.

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, kondisi beberapa situs kini mulai mengalami kerusakan. Minimnya perawatan membuat sebagian makam tertutup tanah, tertimbun dedaunan, dan di tumbuhi lumut.

Pemerintah desa bersama lembaga adat berharap pihak terkait, termasuk pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang, dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan situs tersebut. Mereka menilai perawatan yang tepat dapat menjaga warisan leluhur sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya.

Sili berharap masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menata kembali kawasan makam batu tersebut. Menurutnya, apabila situs itu di rawat dengan baik, peninggalan leluhur Dayak tersebut dapat menjadi daya tarik wisata sejarah yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kuburan batu kuno Dayak di Kayan Mentarang bukan sekadar peninggalan masa lalu. Situs ini menjadi pengingat tentang kebijaksanaan leluhur dalam menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan alam. Pelestarian kawasan tersebut menjadi langkah penting agar generasi mendatang tetap dapat mengenal sejarah panjang masyarakat adat Kalimantan Utara.