Festival Bantengan Kota Batu kembali menjadi magnet bagi pecinta budaya pada penyelenggaraan tahun 2026. Memasuki edisi ke-18, festival yang mengusung tema 18th Trance Festival 2026 menghadirkan pertunjukan seni tradisional dengan skala yang semakin luas. Tidak hanya melibatkan komunitas bantengan dari berbagai daerah di Indonesia, acara ini juga mengundang seniman dari sejumlah negara sehingga memperkuat posisinya sebagai ruang pertemuan budaya lintas bangsa.

Penyelenggara menggelar rangkaian kegiatan selama lima hari, mulai 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Sepanjang festival, pengunjung dapat menikmati beragam agenda, mulai dari pertunjukan seni, pameran budaya, konser mini, hingga ritual tradisi yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Nusantara. Kehadiran berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan komitmen penyelenggara dalam menjaga sekaligus memperkenalkan kesenian bantengan kepada masyarakat yang lebih luas.

Antusiasme Peserta Terus Meningkat

Ketua Bantengan Nuswantara, Agus Suryanti, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Jumlah peserta semakin beragam karena tidak hanya melibatkan kelompok bantengan dari Malang Raya, tetapi juga menghadirkan komunitas seni dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Kontingen dari Jombang, Kediri, Mojokerto, serta sejumlah daerah lainnya turut ambil bagian dalam festival tersebut. Kehadiran mereka memperkaya ragam pertunjukan sekaligus memperlihatkan kuatnya jaringan pelestari budaya bantengan di berbagai wilayah.

Selain peserta domestik, festival juga mendapat dukungan dari seniman mancanegara. Agus menyebutkan bahwa para peserta internasional secara konsisten berpartisipasi setiap tahun sehingga hubungan budaya yang telah terjalin terus berkembang.

Pada penyelenggaraan tahun ini, seniman dari Australia, Jepang, Malaysia, India, Korea, hingga Estonia ikut meramaikan rangkaian acara. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan warna baru dalam pertunjukan, tetapi juga membuka peluang pertukaran budaya antara Indonesia dan negara lain.

Beragam Agenda Seni Selama Lima Hari

Panitia menyusun rangkaian acara secara bertahap agar pengunjung dapat menikmati berbagai bentuk ekspresi seni di lokasi yang berbeda. Festival resmi di buka pada Rabu, 29 Juli 2026, di Sanggar Batik Banteng Agung.

Pada hari pertama, penyelenggara mengawali kegiatan melalui seremoni pembukaan, pemberian penghargaan kepada pihak yang berkontribusi dalam pelestarian budaya, serta konser mini yang menghadirkan suasana meriah. Agenda tersebut menjadi pembuka bagi seluruh rangkaian Festival Bantengan Kota Batu.

Keesokan harinya, Kamis 30 Juli 2026, kegiatan berpindah ke Galeri Raos. Di lokasi ini, pengunjung menikmati pameran seni sekaligus menyaksikan berbagai pertunjukan budaya yang melibatkan pelaku seni dari berbagai latar belakang.

Memasuki Jumat, 31 Juli 2026, festival menghadirkan suasana yang lebih sakral melalui penyelenggaraan acara di Punden Mbah Ageng, Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Lokasi tersebut di pilih karena memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.

Di tempat tersebut, seniman lokal dan internasional menampilkan kolaborasi budaya yang mempertemukan unsur tradisional dengan kreativitas modern. Melalui kolaborasi tersebut, para peserta menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Festival Bantengan Kota Batu

Aksi para bule di Karnaval Bantengan Nuswantara di Kota Batu.

Karnaval Budaya Menjadi Puncak Festival

Penyelenggara menjadwalkan puncak Festival Bantengan Kota Batu pada Minggu, 2 Agustus 2026. Agenda utama berupa Karnaval Bantengan Nuswantara yang menampilkan parade budaya berskala besar dengan melibatkan seluruh peserta festival.

Pawai budaya di mulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga seluruh rangkaian selesai. Ribuan masyarakat di perkirakan memadati jalur karnaval untuk menyaksikan atraksi bantengan, kesenian tradisional, serta penampilan budaya dari berbagai daerah dan negara.

Rute karnaval di mulai dari kawasan Stadion Brantas. Selanjutnya, peserta bergerak menuju Titik Nol Alun-alun Kota Batu sebelum mengakhiri perjalanan di depan Rumah Dinas Wali Kota Batu. Jalur tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan langsung berbagai atraksi sepanjang perjalanan.

Festival Perkuat Pelestarian Budaya Nusantara

Festival Bantengan Kota Batu tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkuat pelestarian budaya tradisional Indonesia. Melalui keterlibatan komunitas seni dari berbagai daerah dan negara, festival ini memperlihatkan bahwa kesenian bantengan mampu menarik perhatian masyarakat internasional.

Kolaborasi lintas budaya yang hadir sepanjang acara juga mempertegas bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik universal. Selain memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia, festival ini turut mendorong regenerasi pelaku seni agar terus melestarikan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Dengan rangkaian kegiatan yang beragam, partisipasi peserta yang semakin luas, serta antusiasme masyarakat yang terus meningkat, Festival Bantengan Kota Batu kembali mengukuhkan diri sebagai salah satu agenda budaya tahunan yang memiliki nilai penting bagi pelestarian tradisi sekaligus pengembangan pariwisata budaya di Indonesia.