Alunan Budaya Desa Pringgasela kembali hadir sebagai ajang pelestarian budaya di Lombok Timur. Tahun 2026 menjadi momen istimewa karena festival ini memasuki usia penyelenggaraan yang ke-10. Selama satu dekade, masyarakat Desa Pringgasela terus menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan kain tenun khas daerah kepada wisatawan dari berbagai wilayah.
Panitia menggelar festival pada 19 hingga 25 Juli 2026 di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Tahun ini panitia mengangkat tema “Srimananti”. Tema tersebut menegaskan peran penting perempuan dalam menjaga identitas budaya melalui tradisi menenun.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival ini juga masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) milik Kementerian Pariwisata. Program tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.
Karnaval Tenun Menjadi Sajian Paling Dinanti
Panitia menyusun berbagai kegiatan untuk menyemarakkan festival tahun ini. Pengunjung dapat menikmati bazar UMKM, jalan sehat, pertunjukan seni, dan berbagai atraksi budaya. Seluruh rangkaian acara melibatkan masyarakat lokal sehingga suasana festival terasa lebih hidup.
Namun, Karnaval Tenun tetap menjadi acara utama. Setiap tahun ribuan pengunjung menunggu penampilan tersebut. Para peserta mengenakan kain tenun khas Pringgasela sambil menampilkan kreativitas budaya yang memikat.
Ketua Panitia Alunan Budaya Desa Pringgasela, Vidia Akmlaunnisa, menjelaskan bahwa malam puncak akan menghadirkan Karnaval Tenun dan tarian kolosal. Menurutnya, kedua pertunjukan itu selalu menjadi magnet utama festival setiap tahun.
Panitia juga menyempurnakan konsep pertunjukan agar penonton memperoleh pengalaman yang lebih menarik dibandingkan tahun sebelumnya.

Keramaian warga di venue utama Alunan Budaya Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, Minggu.
Putri Srimananti Tampilkan Filosofi Tenun Tradisional
Panitia menghadirkan visualisasi Putri Srimananti sebagai salah satu penampilan utama. Tahun ini mereka merancang pertunjukan dengan konsep yang lebih megah. Tata panggung, koreografi, dan unsur visual berpadu untuk memperkuat makna cerita.
Pertunjukan tersebut menggambarkan perempuan sebagai penjaga tradisi menenun di Desa Pringgasela. Melalui kisah itu, panitia mengajak masyarakat menghargai kerja keras para penenun yang terus mempertahankan warisan leluhur.
Selain itu, visualisasi tersebut memperkuat pesan bahwa tradisi tidak akan bertahan tanpa keterlibatan generasi muda. Karena itu, festival ini juga mengajak anak-anak dan remaja mengenal budaya sejak dini.
Festival Edukasi Proses Pembuatan Kain Tenun
Panitia tidak hanya menyuguhkan hiburan. Mereka juga memperkenalkan sembilan tahapan pembuatan kain tenun khas Pringgasela kepada seluruh pengunjung.
Pertunjukan itu memperlihatkan proses sejak pengolahan benang. Setelah itu, para penenun memberi warna menggunakan bahan alami. Selanjutnya, mereka menyusun benang hingga berubah menjadi sehelai kain tenun.
Melalui pertunjukan tersebut, panitia ingin menunjukkan bahwa setiap kain lahir melalui proses panjang. Para penenun membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tinggi untuk menghasilkan karya berkualitas.
Dengan cara itu, masyarakat dapat memahami nilai budaya yang melekat pada setiap helai kain tenun.
Pewarna Alami Menjadi Identitas Tenun Pringgasela
Para penenun Desa Pringgasela tetap mempertahankan penggunaan pewarna alami. Mereka memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam untuk menghasilkan warna khas. Cara tersebut menjadi salah satu identitas utama tenun Pringgasela.
Selain menghasilkan warna yang unik, teknik tradisional itu juga menjaga nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, kain tenun Pringgasela memiliki karakter yang berbeda dari kain tenun daerah lain.
Motif khas yang berpadu dengan warna alami semakin memperkuat daya tarik produk tenun Desa Pringgasela. Keunggulan tersebut membuat para wisatawan tertarik mengenal sekaligus membeli hasil karya para perajin lokal.
Memasuki usia penyelenggaraan yang ke-10, Alunan Budaya Desa Pringgasela terus memperkuat posisinya sebagai festival budaya unggulan di Lombok Timur. Festival ini tidak hanya mempromosikan pariwisata, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi tenun. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat berharap warisan budaya Pringgasela tetap hidup dan terus berkembang di masa mendatang.