Tenun Dan Anyaman Tikar Aceh Timur terus menunjukkan potensinya sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu mengangkat nilai budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerajinan yang berkembang di sejumlah desa tersebut tidak hanya menjadi warisan turun-temurun, tetapi juga berhasil membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM hingga menembus pasar internasional. Melihat potensi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menyatakan komitmennya untuk memperkuat pengembangan sektor kriya melalui berbagai program pembinaan yang berkelanjutan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat di beberapa wilayah Kabupaten Aceh Timur mempertahankan tradisi menenun kain dan menganyam tikar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Keahlian tersebut terus di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai seni, kualitas, sekaligus identitas budaya yang kuat.

Keberadaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut memperluas jangkauan produk-produk tersebut. Berbagai hasil kerajinan kini tidak hanya di pasarkan di dalam negeri, tetapi juga berhasil memasuki pasar luar negeri. Kondisi itu membuka peluang lebih besar bagi Aceh Timur untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Kemenekraf Siapkan Dukungan Pengembangan Kriya

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengungkapkan apresiasinya terhadap kualitas tenun dan anyaman tikar asal Aceh Timur. Ia menyampaikan hal tersebut setelah melihat langsung berbagai produk yang di bawa Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky dalam pertemuan di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta Pusat, pada Senin (3/8/2026).

Menurut Riefky, produk kriya tersebut memiliki desain yang menarik serta menyimpan potensi besar untuk berkembang di pasar yang lebih luas. Karena itu, pemerintah siap memberikan dukungan agar industri kreatif berbasis kerajinan di Aceh Timur mampu meningkatkan daya saing.

Pemerintah tidak hanya berfokus pada promosi produk, tetapi juga menyiapkan pembinaan secara menyeluruh. Langkah tersebut mencakup peningkatan kapasitas pelaku usaha, pendampingan administrasi, akses pembiayaan, hingga penguatan pemasaran agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.

Tenun Dan Anyaman Tikar Aceh Timur

Pembuat alat tenun Aceh, Johan Irwandi (nomor satu dari kiri) saat mempraktekkan pembuatan tenun Aceh di booth pameran Festival Meurah Silu bertajuk Karya Kreatif Aceh Gayo 2022 di Lapangan Musara Alun Takengon, Kampung Blang Kolak 1, Kecamatan Bebesen.

UMKM Masih Membutuhkan Pendampingan

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menjelaskan bahwa usaha tenun dan anyaman tikar di daerahnya telah berjalan sekitar satu dekade. Selama periode tersebut, para pelaku UMKM aktif mengikuti berbagai pameran dan berhasil memasarkan produknya hingga ke luar negeri.

Meski demikian, ia menilai pengelolaan usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Para pengrajin masih membutuhkan pendampingan dalam memperluas jaringan pemasaran, mengurus hak kekayaan intelektual, hingga memperkuat aspek administrasi usaha.

Selain itu, pemerintah daerah juga berharap Kementerian Ekonomi Kreatif memberikan pelatihan, insentif, serta dukungan lain yang mampu mempercepat pengembangan usaha. Dengan pendampingan yang tepat, para pelaku UMKM di harapkan dapat memperluas pangsa pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Pembinaan Menyeluruh untuk Naik Kelas

Riefky menjelaskan bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif membina 21 subsektor ekonomi kreatif. Setiap subsektor memperoleh pendampingan dari direktorat yang berbeda agar setiap permasalahan dapat di tangani secara lebih spesifik dan efektif.

Ia menegaskan bahwa pelatihan yang di berikan tidak berhenti dalam waktu singkat. Kementerian akan mendampingi pelaku usaha hingga mampu menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan siap memasuki pasar yang lebih besar.

Selain pelatihan, pemerintah juga memfasilitasi akses pendanaan dan berbagai bentuk bantuan lain yang mendukung pertumbuhan usaha. Pendekatan tersebut di harapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Program Desa Kreatif Jadi Andalan

Salah satu strategi yang di siapkan Kementerian Ekonomi Kreatif ialah pengembangan melalui program Desa Kreatif. Program ini melibatkan berbagai direktorat yang akan turun langsung ke daerah untuk memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM.

Direktorat Pelatihan, Pendanaan, Pemasaran, hingga Media akan bekerja bersama dalam mengembangkan potensi desa yang memiliki produk unggulan. Dengan pendekatan tersebut, setiap desa memperoleh dukungan yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan masing-masing.

Program aktivasi desa juga membuka kesempatan bagi sentra kerajinan untuk meningkatkan kualitas produksi, memperkuat promosi, serta memperluas akses pasar. Pemerintah bahkan menyiapkan anggaran hingga sekitar Rp500 juta bagi setiap desa yang terpilih mengikuti program tersebut.

Melalui dukungan tersebut, pemerintah berharap desa-desa penghasil tenun dan anyaman tikar di Aceh Timur mampu berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Riefky menyatakan dirinya terkesan dengan kualitas desain tenun dan anyaman asal Aceh Timur. Karena itu, ia menegaskan dukungannya terhadap upaya pengembangan kedua produk kriya tersebut agar mampu berkembang lebih pesat dan semakin di kenal di pasar nasional maupun internasional.