Danau Baru Di Perbatasan Nepal-China mulai meluap pada Jumat (28/8/2026) dan meningkatkan ancaman banjir susulan di kawasan yang baru saja mengalami bencana besar. Kondisi tersebut membuat otoritas Nepal dan China meningkatkan kewaspadaan sekaligus menghentikan sementara sebagian kegiatan pencarian dan penyelamatan.

Luapan air menimbulkan kepanikan di Distrik Rasuwa, Nepal, yang berbatasan langsung dengan Tibet, China. Sejumlah warga segera bergerak menuju daerah yang lebih tinggi setelah melihat debit sungai terus bertambah.

Ancaman terbesar berasal dari kemungkinan runtuhnya bendungan alami yang terbentuk akibat timbunan material longsor. Jika struktur tersebut tidak mampu menahan tekanan air, volume besar air dapat bergerak menuju kawasan hilir dan kembali menerjang permukiman.

Pemerintah China mengambil langkah pencegahan dengan memindahkan personel serta kendaraan penyelamat menuju tempat yang lebih aman. CCTV melaporkan langkah tersebut pada Jumat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan jebolnya bendungan alami.

Sementara itu, otoritas Nepal menghentikan aktivitas pencarian selama sekitar 90 menit untuk mengurangi risiko terhadap petugas di lapangan.

Bencana Nepal-Tibet Tinggalkan Kerusakan Besar

Ancaman dari danau baru di perbatasan Nepal-China muncul hanya dua hari setelah bencana dahsyat menerjang kawasan Himalaya pada Rabu. Peristiwa yang berkaitan dengan keruntuhan gletser dalam skala besar itu memicu aliran material berkecepatan tinggi melalui sistem sungai pegunungan.

Campuran air, batu, lumpur, es, dan berbagai puing bergerak menuju lembah serta menghantam kawasan yang berada di sepanjang jalurnya. Arus tersebut menghancurkan rumah, merusak pembangkit listrik, serta memutus sejumlah jalan dan jembatan.

Bencana juga mengganggu jalur perbatasan yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa di Tibet. Selain berfungsi sebagai akses penting antarwilayah, rute tersebut cukup populer di kalangan pendaki dan peziarah.

Hingga laporan terbaru pada Jumat, otoritas telah mengonfirmasi 469 korban meninggal di Nepal. Hampir 1.000 orang lainnya masih masuk daftar hilang di Nepal dan Tibet.

Di antara seluruh orang yang dilaporkan hilang di kedua wilayah tersebut, sedikitnya 540 merupakan warga negara asing.

Longsoran Membentuk Bendungan Alami

Ancaman berikutnya muncul setelah material bencana menumpuk dan menghalangi aliran sungai. Kondisi itu kemudian menciptakan sebuah badan air baru yang berfungsi seperti danau sementara.

Japan Today menjelaskan bahwa fenomena semacam ini sering disebut danau bendungan. Material longsor yang menutup jalur sungai bertindak sebagai penghalang alami sehingga air terus terkumpul di belakangnya.

Keberadaan danau semacam itu menimbulkan bahaya serius. Tekanan air dapat terus meningkat seiring bertambahnya volume. Jika timbunan material tidak cukup kuat, bendungan alami berpotensi runtuh secara mendadak dan mengirimkan gelombang air ke daerah hilir.

Pemerintah China kemudian mengirim tim teknik yang terdiri atas delapan orang untuk mempelajari kondisi danau. Sejak Kamis, tim tersebut menjalankan survei udara sekaligus membuat pemodelan tiga dimensi guna memperkirakan potensi bahaya.

Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan volume air yang cukup cepat.

Pada Jumat pagi, danau tersebut diperkirakan telah menampung sekitar 2,5 juta meter kubik air. Sehari sebelumnya, perkiraan volume masih berada pada kisaran 1,5 juta hingga 2 juta meter kubik.

Pejabat setempat juga memperkirakan sekitar tiga juta meter kubik air dapat mengalir menuju danau dalam periode Kamis hingga akhir pekan. Kondisi itu membuat risiko runtuhnya bendungan alami semakin tinggi.

Danau Baru di Perbatasan Nepal-China

Foto rumah-rumah yang rusak di dekat tepian Sungai Trishuli yang meluap dan dipenuhi puing-puing setelah banjir bandang melanda distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/8/2026).

Debit Sungai di Rasuwa Terus Meningkat

Otoritas Nepal segera meningkatkan kewaspadaan setelah menerima peringatan mengenai luapan danau tersebut. Perhatian terutama tertuju pada daerah hilir yang dapat menerima dampak langsung jika bendungan alami gagal menahan air.

Pejabat tertinggi Distrik Rasuwa, Narendra Pariyar, membenarkan adanya kenaikan permukaan sungai di wilayahnya. Menurut dia, petugas dapat melihat debit air terus meningkat, meskipun mereka belum memperoleh angka pasti mengenai ketinggian air.

Situasi itu mendorong warga untuk meninggalkan lokasi rawan dan mencari tempat yang lebih tinggi. Pemerintah setempat juga terus memantau perkembangan aliran air untuk menentukan langkah keselamatan berikutnya.

Sebelum ancaman luapan muncul, tim Nepal menggunakan helikopter untuk mencari korban selamat sekaligus mengirim kebutuhan darurat kepada ribuan penduduk yang terisolasi.

Petugas bersama anjing pelacak juga menyisir sejumlah lokasi terdampak. Operasi tersebut menemukan puluhan jenazah yang sebelumnya terbawa arus hingga mencapai wilayah dataran rendah.

Korban Selamat Kehilangan Keluarga dan Tempat Tinggal

Besarnya kerusakan meninggalkan pengalaman traumatis bagi warga yang berhasil menyelamatkan diri. Dibga Tamang menjadi salah satu penduduk Rasuwa yang berhasil keluar dari kawasan bencana pada Kamis.

Helikopter militer membawa Tamang bersama tiga orang lainnya menuju kamp pengungsian di Nuwakot. Namun, keselamatannya harus dibayar dengan kehilangan besar karena bencana merenggut orang-orang terdekatnya.

Tamang menceritakan bahwa ia tidak lagi memiliki keluarga maupun kerabat yang menunggunya. Banjir telah merenggut orang-orang di sekitarnya sekaligus menghancurkan kehidupan yang sebelumnya ia jalani.

Kesaksian tersebut menggambarkan besarnya dampak kemanusiaan yang muncul di balik angka korban. Selain kehilangan anggota keluarga, banyak penyintas kini harus menghadapi kerusakan tempat tinggal, terputusnya akses transportasi, dan keterbatasan kebutuhan dasar.

Nepal Belum Meminta Personel Penyelamat Asing

Sejumlah negara telah menawarkan dukungan kepada Nepal setelah skala bencana semakin terlihat. Namun, pemerintah Nepal menilai badan keamanan nasional masih mampu menjalankan operasi pencarian dan pertolongan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengatakan pemerintah menghargai berbagai tawaran bantuan internasional. Meski demikian, Nepal untuk sementara belum membutuhkan tambahan personel asing dalam operasi di lapangan.

Keputusan tersebut membuat Tim Tanggap Cepat Korea Selatan yang telah berada di Kathmandu belum dapat bergabung dalam misi pencarian. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan di Seoul turut mengonfirmasi situasi tersebut.

Kini perhatian petugas tidak hanya tertuju pada pencarian korban yang masih hilang. Pemerintah Nepal dan China juga harus mengawasi danau baru di perbatasan Nepal-China karena volume air yang terus bertambah dapat menciptakan bencana susulan.

Kondisi bendungan alami, perubahan debit sungai, dan potensi runtuhnya timbunan material menjadi faktor penting dalam beberapa waktu mendatang. Ancaman tersebut membuat warga di kawasan hilir harus tetap waspada, terutama karena wilayah Nepal-Tibet masih berusaha pulih dari kerusakan besar akibat banjir bandang sebelumnya.