Wayang Landung Sangkala – Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang menjadi identitas sekaligus cerminan sejarah masyarakatnya. Kabupaten Ciamis di Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang masih menjaga berbagai tradisi budaya melalui beragam bentuk kesenian. Di antara banyak karya budaya yang berkembang, Wayang Landung Sangkala hadir sebagai salah satu pertunjukan yang mampu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan tokoh-tokoh wayang dalam ukuran raksasa.
Penampilan Wayang Landung Sangkala kerap menjadi daya tarik dalam berbagai festival budaya, termasuk saat tampil pada Galuh Ethnic Carnival. Ukurannya yang besar, di padukan dengan kostum yang unik dan gerakan para pemain, membuat banyak pengunjung tertarik mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera maupun telepon seluler. Tokoh-tokoh yang di hadirkan pun tidak asing bagi masyarakat, seperti Cepot, Arjuna, dan karakter wayang lainnya yang selama ini di kenal melalui pertunjukan wayang golek.
Awal Mula Lahirnya Wayang Landung Sangkala
Wayang Landung Sangkala merupakan hasil kreativitas seniman sekaligus pemerhati sejarah asal Kawali, Pandu Radea, yang kini menetap di Panjalu, Kabupaten Ciamis. Kesenian ini mulai di perkenalkan kepada masyarakat pada 2007. Ketika Kabupaten Ciamis mendapat kesempatan mewakili daerah dalam ajang Parade Budaya Nusantara yang berlangsung di Jembrana, Bali.
Kesempatan tersebut menjadi titik awal lahirnya konsep seni helaran yang berbeda dari pertunjukan tradisional pada umumnya. Pandu Radea di percaya untuk menyusun konsep pertunjukan yang mampu menampilkan identitas budaya Ciamis dalam sebuah parade budaya berskala nasional.
Dari proses kreatif tersebut, lahirlah Wayang Landung yang memadukan unsur wayang golek dengan sentuhan artistik baru. Salah satu ciri khas yang membedakannya adalah penggunaan atribut berbahan daun kararas. Inspirasi penggunaan daun tersebut berasal dari tradisi Barong Brutuk di Bali, kemudian di kembangkan menjadi identitas visual Wayang Landung.
Konsep pemanfaatan daun kararas sebenarnya telah lebih dahulu di terapkan dalam pementasan teater bertajuk Obor-obor di Nyiar Lumar pada 1998. Pengalaman itu kemudian menjadi fondasi dalam pengembangan Wayang Landung hingga di kenal seperti sekarang.
Mengangkat Kisah Mahabharata dalam Pertunjukan Perdana
Pada penampilan pertamanya di Bali, Wayang Landung Sangkala mengangkat kisah Sabhaparwa yang berasal dari epos Mahabharata. Cerita tersebut menggambarkan perjalanan Pandawa yang harus meninggalkan kerajaan setelah mengalami kekalahan dalam permainan dadu melawan Kurawa.
Untuk mewujudkan pertunjukan tersebut, Pandu Radea bersama Eman Sastrapradja membentuk Komunitas Sangkala sebagai wadah kolaborasi berbagai seniman dari sejumlah bidang seni. Koreografi tari di percayakan kepada Wawan Aryaganis dari Padepokan Rengganis, sementara penataan musik di garap oleh Ocay Rosadi. Sektor artistik juga melibatkan sejumlah seniman yang turut memberikan kontribusi dalam menciptakan tampilan visual yang khas.
Kolaborasi lintas disiplin seni tersebut menghasilkan pertunjukan yang mendapat sambutan positif. Setelah tampil di Bali, Wayang Landung mulai di kenal di berbagai daerah dan berhasil memperoleh sejumlah penghargaan dalam berbagai ajang kebudayaan tingkat lokal, regional, maupun nasional.

Wayang Landung Sangkala di Ciamis
Komunitas Sangkala Menjadi Ruang Berkumpulnya Seniman Ciamis
Seiring berkembangnya Wayang Landung, Komunitas Sangkala juga tumbuh sebagai ruang kolaborasi para pelaku seni di Kabupaten Ciamis. Komunitas yang didirikan pada 2007 oleh Pandu Radea dan Eman Sastrapradja itu mempertemukan seniman dari berbagai latar belakang, baik seni tradisional maupun modern.
Berbagai bidang seni terlibat dalam komunitas tersebut, mulai dari teater, tari, karawitan, calung, pedalangan, reog, hingga seni pertunjukan lainnya. Kehadiran banyak seniman dengan keahlian berbeda memungkinkan terciptanya karya-karya baru yang tetap berpijak pada nilai budaya lokal.
Selain menjadi wadah berkarya, komunitas ini juga berperan memperkenalkan seni khas Ciamis kepada masyarakat yang lebih luas melalui berbagai pertunjukan budaya.
Pernah Tampil di Berbagai Daerah hingga Misi Budaya Internasional
Popularitas Wayang Landung Sangkala tidak hanya berkembang di wilayah Jawa Barat. Pertunjukan ini pernah di pentaskan di sejumlah lokasi penting seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Budaya Bandung. Hingga Yogyakarta sebagai bagian dari misi kebudayaan Kabupaten Ciamis.
Di sisi lain, kiprah Pandu Radea dalam dunia seni wayang juga membawanya mengikuti berbagai kegiatan budaya di tingkat internasional. Ia pernah menjadi bagian dari delegasi budaya Indonesia dalam pertunjukan Wayang Ajen di Spanyol pada 2009, Prancis pada 2010, serta Korea Selatan pada 2011.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas yang berakar pada budaya lokal mampu menembus panggung internasional. Dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Wayang Landung sebagai Simbol Pelestarian Budaya Daerah
Meski saat ini produksi pertunjukan Wayang Landung Sangkala belum kembali dilakukan secara rutin. Keberadaannya tetap memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan di Ciamis. Kesenian ini menjadi contoh bagaimana tradisi dapat di kembangkan melalui inovasi tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitasnya.
Wayang Landung Sangkala tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi mengenai cerita pewayangan, sejarah, serta pentingnya menjaga warisan budaya. Dengan dukungan berbagai pihak, kesenian ini memiliki peluang untuk kembali berkembang dan menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Ciamis yang di kenal lebih luas oleh generasi mendatang.