Longsor – hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor memicu longsornya Tembok Penahan Tanah (TPT) di kawasan permukiman padat penduduk. Peristiwa tersebut terjadi di Kelurahan Bondongan, Kecamatan Bogor Selatan, pada Kamis sore. Longsor itu menyebabkan seorang warga perempuan meninggal dunia setelah tertimpa material tanah dan batu.

Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak sore hari. Kondisi tanah yang jenuh air membuat struktur TPT kehilangan daya tahan. Saat itu, warga sekitar tidak menduga dinding penahan tanah akan runtuh secara tiba-tiba.

Kronologi Kejadian Saat Hujan Mengguyur Lokasi

Warga menyaksikan kejadian longsor sekitar pukul 18.20 WIB. Saat hujan turun dengan deras, TPT setinggi kurang lebih dua meter yang berada di depan rumah korban tiba-tiba roboh. Dinding tersebut langsung menutup jalan setapak yang biasa digunakan warga untuk beraktivitas.

Pada waktu yang sama, korban baru saja menyelesaikan salat dan keluar rumah untuk membereskan warung miliknya. Korban berjalan di depan rumah ketika TPT mendadak runtuh dan menimpanya. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat sehingga korban tidak sempat menyelamatkan diri.

Warga yang mendengar suara runtuhan langsung berteriak meminta bantuan. Beberapa orang segera mendatangi lokasi setelah menyadari ada warga yang tertimpa material longsor.

Longsor tembok penahan tanah di permukiman Bogor Selatan

Foto: Tembok penahan tanah di Bogor longsor.

Kondisi Lingkungan Permukiman yang Sempit

Lokasi longsor berada di dalam gang sempit permukiman yang padat penduduk. Jalan di area tersebut memiliki kontur menurun sehingga air hujan mudah mengalir dan menggerus tanah di sekitarnya. Kondisi ini memperbesar risiko pergerakan tanah saat hujan deras turun dalam waktu lama.

Material longsor berupa batu dan tanah menutup hampir seluruh jalan setapak di depan rumah korban. Meski demikian, bangunan rumah korban tetap berdiri dengan kondisi relatif aman dan tidak mengalami kerusakan struktural.

Kepadatan bangunan dan sempitnya akses jalan menyulitkan mobilisasi petugas. Kendaraan besar tidak dapat masuk ke lokasi sehingga warga dan petugas harus mengandalkan tenaga manual dalam penanganan awal.

Proses Evakuasi Menghadapi Banyak Kendala

Warga bersama petugas melakukan proses evakuasi selama kurang lebih satu jam. Mereka memindahkan material longsor secara perlahan menggunakan alat seadanya. Batu-batu besar yang bercampur tanah menjadi kendala utama dalam upaya penyelamatan.

Petugas dan warga memilih bekerja dengan hati-hati agar tidak memperparah kondisi korban. Mereka menghindari gerakan terburu-buru karena khawatir dapat melukai tubuh korban yang tertimbun di bawah material longsor.

Setelah berhasil mengangkat korban dari timbunan tanah dan batu, petugas memastikan kondisi korban. Korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Selanjutnya, petugas membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lanjutan sesuai prosedur.

Perlunya Kewaspadaan di Wilayah Rawan Longsor

Kejadian ini kembali mengingatkan masyarakat akan tingginya risiko longsor di wilayah dengan kontur tanah miring, terutama saat musim hujan. Warga perlu meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras turun dalam durasi panjang.

Keberadaan TPT memang bertujuan menahan pergerakan tanah. Namun, struktur yang tidak terawat atau sudah melemah dapat gagal menjalankan fungsinya. Warga sebaiknya rutin memeriksa kondisi dinding penahan tanah di sekitar rumah, terutama jika muncul retakan atau perubahan struktur.

Selain itu, pemerintah daerah perlu memperkuat upaya mitigasi bencana melalui pemantauan infrastruktur penahan tanah dan perbaikan sistem drainase. Langkah pencegahan ini sangat penting untuk menekan risiko longsor dan melindungi keselamatan warga.

Peristiwa longsor di Bogor Selatan tersebut menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban dan warga sekitar. Kejadian ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kewaspadaan, perawatan lingkungan, dan mitigasi bencana harus terus berjalan guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.