Jepang – kembali menunjukkan kekuatannya sebagai destinasi wisata global pada tahun 2025. Sepanjang tahun tersebut, negara ini berhasil menarik 42,7 juta wisatawan mancanegara. Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam sejarah pariwisata Jepang dan menandai pemulihan yang sangat solid setelah masa krisis global.

Pemerintah Jepang secara aktif mempromosikan sektor pariwisata melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk pelonggaran aturan perjalanan, penguatan promosi internasional, dan peningkatan kualitas layanan wisata. Upaya ini membuahkan hasil nyata, terutama setelah pada tahun 2024 Jepang juga mencatat angka kunjungan yang tinggi dengan lebih dari 36 juta wisatawan asing.

Pencapaian tersebut memperkuat optimisme pemerintah dalam mengejar target jangka panjang, yakni 60 juta wisatawan per tahun pada 2030. Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Jepang menilai target tersebut realistis dan dapat di capai.

Pemandangan wisata Jepang pada 2025 saat kunjungan turis asing mencapai rekor tertinggi

Ilustrasi turis asing saat berlibur ke Jepang. (AFP/FRED MERY)

Kontribusi Pariwisata terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jepang

Lonjakan jumlah wisatawan secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang 2025, wisatawan asing membelanjakan dana hingga sekitar 9,5 triliun yen di Jepang. Nilai ini meningkat signifikan di bandingkan tahun sebelumnya dan memperlihatkan peran strategis sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan negara.

Wisatawan mancanegara menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, hingga industri budaya dan hiburan. Aktivitas belanja wisatawan juga membantu pelaku usaha lokal meningkatkan pendapatan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di berbagai wilayah.

Pemerintah dan pelaku industri menilai pertumbuhan ini sebagai peluang besar untuk memperkuat struktur ekonomi berbasis jasa dan pariwisata berkelanjutan.

Penurunan Wisatawan China Menjadi Tantangan Tersendiri

Di tengah peningkatan total kunjungan, Jepang menghadapi penurunan tajam jumlah wisatawan asal China. Pada akhir 2025, angka kunjungan dari negara tersebut turun hingga sekitar 45 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Ketegangan hubungan diplomatik antara Jepang dan China memicu kondisi ini. Pemerintah China mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, sehingga minat berwisata ke Jepang menurun secara signifikan. Padahal, selama bertahun-tahun China menjadi salah satu pasar terbesar bagi pariwisata Jepang.

Pemerintah Jepang menyadari dampak penurunan ini dan terus memantau perkembangan hubungan bilateral. Otoritas pariwisata memperkirakan tren penurunan wisatawan China masih akan berlanjut hingga awal 2026, terutama selama periode Tahun Baru Imlek.

Diversifikasi Pasar Menjadi Strategi Utama

Untuk menjaga stabilitas industri pariwisata, Jepang secara aktif memperluas pasar wisatawan dari berbagai negara lain. Wisatawan dari Asia Tenggara, Eropa, Amerika Utara, dan Australia menunjukkan peningkatan yang signifikan sepanjang 2025.

Strategi diversifikasi ini membantu Jepang menutup penurunan dari satu pasar utama dan sekaligus mengurangi ketergantungan pada negara tertentu. Pemerintah bekerja sama dengan maskapai, agen perjalanan, dan pemerintah daerah untuk menarik wisatawan ke berbagai wilayah di Jepang.

Langkah ini tidak hanya menjaga jumlah kunjungan tetap tinggi, tetapi juga memperluas dampak ekonomi ke daerah-daerah yang sebelumnya kurang tersentuh pariwisata internasional.

Overtourism Mulai Menjadi Perhatian Serius

Di balik keberhasilan tersebut, Jepang juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya kepadatan wisatawan di sejumlah destinasi populer. Kota-kota besar dan lokasi ikonik mengalami lonjakan pengunjung yang memicu kemacetan, antrean panjang, dan gangguan terhadap aktivitas warga lokal.

Selain itu, sebagian wisatawan menunjukkan perilaku yang kurang menghormati budaya setempat. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari masyarakat dan mendorong pemerintah untuk mengambil langkah pengelolaan yang lebih tegas dan terarah.

Upaya Pemerintah Mengelola Pariwisata Secara Berkelanjutan

Sebagai respons, pemerintah Jepang mendorong wisatawan untuk menjelajahi destinasi alternatif di luar pusat keramaian. Daerah pedesaan, kota kecil, dan wilayah regional mulai mendapatkan perhatian lebih melalui promosi dan pengembangan infrastruktur.

Pemerintah juga membentuk lembaga khusus yang fokus menangani isu pariwisata, termasuk pengendalian overtourism dan perlindungan budaya lokal. Melalui pendekatan ini, Jepang berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan strategi yang tepat dan pengelolaan yang berkelanjutan, Jepang optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia.