Mikroplastik – kini menjadi salah satu isu lingkungan yang paling mendapat perhatian. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari laut dan pesisir, tetapi juga telah memasuki sumber air tawar yang di manfaatkan masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena mikroplastik berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui air konsumsi dan berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Melihat situasi ini, pemerintah perlu memperkuat upaya mitigasi secara menyeluruh. Tanpa langkah yang tegas dan berkelanjutan, pencemaran mikroplastik berisiko terus meningkat dan merusak kualitas lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Pemerintah Perlu Memperkuat Upaya Mitigasi Mikroplastik
Tim Riset Studi Pesisir dan Kelautan dari Universitas Brawijaya menegaskan pentingnya penguatan mitigasi mikroplastik di berbagai sektor. Ketua tim riset, Andi Kurniawan, menilai pemerintah perlu meningkatkan perlindungan konsumen sebagai langkah awal yang konkret.
Pemerintah dapat melakukan pengawasan ketat terhadap standar air minum, termasuk air minum dalam kemasan dan air yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Dengan melakukan pemeriksaan rutin dan evaluasi standar kualitas air, risiko paparan mikroplastik dapat ditekan secara signifikan.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperketat pengawasan lingkungan, terutama pada aliran sungai. Sungai membawa berbagai jenis pencemar dari daratan menuju laut. Tanpa pengendalian yang kuat, mikroplastik akan terus berpindah dan terakumulasi di wilayah pesisir.

Ilustrasi mikroplastik di lautan
Pendekatan Kesehatan Perlu Mendukung Upaya Lingkungan
Andi Kurniawan juga mendorong penguatan pendekatan kesehatan dalam isu mikroplastik. Menurutnya, penelitian yang mengaitkan mikroplastik dengan dampak kesehatan masih membutuhkan perhatian lebih serius. Walaupun World Health Organization belum menetapkan baku mutu khusus, pemerintah tetap dapat mengambil langkah antisipatif.
Melalui riset yang terarah, pemerintah dan institusi kesehatan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai risiko mikroplastik terhadap tubuh manusia. Pendekatan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini agar dampak yang lebih besar dapat di cegah sejak awal.
Mikroplastik Ditemukan dari Malang Raya hingga Sungai Brantas
Penelitian yang di lakukan oleh tim Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjangkau wilayah Malang Raya hingga muara Sungai Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Temuan ini memperlihatkan bahwa pencemaran mikroplastik tidak hanya terjadi di laut, tetapi juga telah memasuki sumber air daratan.
Di wilayah Malang Raya, peneliti menemukan kandungan mikroplastik dalam kisaran 4 hingga 8 partikel per liter air. Namun, jumlah tersebut meningkat tajam di wilayah pesisir, dengan rata-rata mencapai 40 hingga 45 partikel per liter. Peningkatan ini menunjukkan adanya proses akumulasi pencemar sepanjang aliran sungai.
Andi menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke mata air melalui proses alami. Air hujan membawa partikel mikroplastik dari atmosfer ke permukaan tanah. Selanjutnya, proses pengisian ulang air tanah membawa partikel tersebut ke dalam sumber air yang di gunakan masyarakat.
Berbagai Aktivitas Manusia Memicu Masuknya Mikroplastik
Beragam faktor memicu masuknya mikroplastik ke dalam siklus air. Aktivitas manusia sehari-hari, limbah industri, serta partikel nano di udara berkontribusi terhadap pencemaran ini. Angin membawa partikel-partikel tersebut ke atmosfer, lalu hujan menurunkannya kembali ke permukaan bumi.
Akibatnya, mikroplastik masuk ke sungai, danau, dan mata air tanpa di sadari. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik telah menyebar luas dan tidak lagi terbatas pada ekosistem laut atau pesisir.
Mikroplastik Berisiko Menimbulkan Dampak Kesehatan
Mikroplastik memiliki sifat pencemaran yang bersifat lambat dan akumulatif. Partikel ini dapat menumpuk dalam jangka panjang dan sulit terdeteksi pada tahap awal. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan mikroplastik sebagai prioritas mitigasi lingkungan.
Menurut Andi, mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai jalur. Partikel tersebut berpotensi mengganggu sistem hormon, memasuki pembuluh darah, serta mencapai sistem pernapasan hingga paru-paru. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan masalah kesehatan lainnya.
Strategi Mitigasi untuk Menekan Risiko Mikroplastik
Pemerintah perlu menerapkan strategi mitigasi yang komprehensif untuk mengendalikan mikroplastik. Pengawasan kualitas air secara berkala, pengelolaan limbah industri yang lebih ketat, serta peningkatan riset menjadi langkah penting yang perlu di lakukan secara berkelanjutan.
Selain menjaga kualitas lingkungan, langkah-langkah tersebut juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan melakukan pencegahan sejak dini, potensi paparan mikroplastik dapat di tekan, sehingga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan dapat terjaga dalam jangka panjang.