Ketegangan geopolitik global terus meningkat dan memicu kekhawatiran internasional. Hubungan Amerika Serikat dengan Iran di Timur Tengah serta dinamika politik dengan sejumlah negara Eropa terkait Greenland mendorong munculnya kembali wacana Perang Dunia 3. Banyak analis keamanan global mulai menilai potensi dampak konflik besar tersebut terhadap stabilitas dunia.

Dalam berbagai kajian geopolitik, Indonesia kerap muncul sebagai salah satu negara yang relatif aman jika konflik global berskala besar benar-benar terjadi. Penilaian ini mengacu pada posisi geografis Indonesia, kebijakan luar negeri yang netral, serta keterlibatan militer yang terbatas dalam konflik internasional. Namun, para ahli tetap menegaskan bahwa sifat keamanan tersebut bersifat relatif, bukan mutlak.

Peta dunia menunjukkan daftar negara teraman jika Perang Dunia 3 terjadi

Ilustrasi rudal.

Peringatan Annie Jacobsen tentang Risiko Perang Nuklir

Kekhawatiran global semakin menguat setelah pakar perang nuklir dan jurnalis investigatif, Annie Jacobsen, menyampaikan peringatan keras mengenai dampak perang nuklir. Jacobsen secara konsisten menyoroti kecepatan dan skala kehancuran yang dapat terjadi jika negara-negara besar menggunakan senjata nuklir.

Dalam wawancara di podcast The Diary of a CEO, Jacobsen menjelaskan bahwa perang nuklir dapat menghancurkan peradaban manusia dalam waktu sangat singkat. Ia memperkirakan sekitar lima miliar orang dapat meninggal dunia dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan pertama terjadi. Angka tersebut menunjukkan betapa dahsyatnya konsekuensi konflik nuklir modern.

Jacobsen juga memaparkan skenario teknis yang menggambarkan sempitnya waktu reaksi manusia. Ia menjelaskan bahwa rudal balistik antarbenua hanya memerlukan sekitar 26 menit 40 detik untuk mencapai Pantai Timur Amerika Serikat jika Rusia meluncurkannya. Dalam kondisi seperti itu, ruang diplomasi hampir tidak tersedia.

Tekanan Waktu dan Risiko Kesalahan Strategis

Jacobsen menegaskan bahwa manusia hanya memiliki waktu kurang dari 90 menit sebelum dunia berubah secara drastis setelah peluncuran senjata nuklir terdeteksi. Sistem pertahanan akan langsung memicu rangkaian keputusan strategis dalam hitungan menit.

Dalam konteks Amerika Serikat, presiden hanya memiliki sekitar enam menit untuk menentukan respons balasan. Presiden harus mengambil keputusan berdasarkan dokumen rahasia yang dikenal sebagai “Buku Hitam”. Tekanan waktu ekstrem ini meningkatkan risiko kesalahan strategis yang dapat mempercepat eskalasi konflik.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi pertahanan modern tidak selalu memberi ruang penyelamatan. Sebaliknya, sistem ini sering mempersempit peluang negosiasi dan meningkatkan potensi kehancuran global.

Nuclear Winter sebagai Ancaman Jangka Panjang

Jacobsen menegaskan bahwa dampak perang nuklir tidak berhenti pada ledakan awal. Ia mengutip penelitian Profesor Brian Toon, seorang ahli ilmu atmosfer, yang menjelaskan ancaman lanjutan berupa nuclear winter. Ledakan nuklir berskala besar akan melepaskan debu dan asap dalam jumlah masif ke atmosfer.

Partikel tersebut akan menghalangi sinar matahari dan memicu penurunan suhu ekstrem dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi menghancurkan sistem pertanian global. Banyak wilayah dunia dapat mengalami musim dingin berkepanjangan hingga satu dekade.

Selain itu, kerusakan lapisan ozon akan meningkatkan paparan radiasi ultraviolet. Dalam kondisi tersebut, manusia harus bertahan hidup dengan sumber daya terbatas dan lingkungan yang tidak bersahabat. Jacobsen menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang relatif lebih baik untuk mempertahankan produksi pangan, yaitu Selandia Baru dan Australia.

Indikator Negara yang Dinilai Lebih Aman

Para analis geopolitik menggunakan sejumlah indikator untuk menilai tingkat keamanan suatu negara jika Perang Dunia 3 terjadi. Indikator tersebut meliputi netralitas politik, isolasi geografis, kepadatan penduduk, serta minimnya kepentingan strategis militer.

Negara dengan kebijakan luar negeri netral dan lokasi terpencil cenderung menghadapi risiko lebih rendah. Swiss, misalnya, mempertahankan netralitas sejak abad ke-19 dan memanfaatkan perlindungan Pegunungan Alpen. Negara ini juga membangun infrastruktur bunker yang luas.

Islandia memperoleh keuntungan dari lokasinya yang terpencil di Atlantik Utara serta minim kepentingan geopolitik global. Bhutan juga menjaga jarak dari konflik internasional dan fokus pada kebijakan domestik.

Negara lain seperti Irlandia memilih tidak bergabung dengan NATO dan mempertahankan sikap netral. Fiji dan Chile mendapat keuntungan dari isolasi geografis serta sumber daya alam yang relatif stabil.

Posisi Indonesia dalam Peta Keamanan Global

Indonesia juga masuk dalam daftar negara yang relatif aman jika Perang Dunia 3 terjadi. Sejak masa Presiden Soekarno, Indonesia menjalankan politik luar negeri “bebas dan aktif”. Kebijakan ini memungkinkan Indonesia membangun hubungan diplomatik luas tanpa terikat aliansi militer besar.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki posisi geografis yang jauh dari pusat konflik global. Faktor ini mengurangi risiko Indonesia menjadi target strategis dalam konflik berskala dunia. Selain itu, Indonesia tidak memiliki kepentingan langsung dalam persaingan kekuatan nuklir global.

Namun, para ahli tetap menegaskan bahwa tidak ada negara yang benar-benar aman dari dampak perang nuklir. Krisis iklim, kelaparan global, dan gangguan sistem ekonomi akan memengaruhi seluruh dunia. Oleh karena itu, diplomasi internasional dan pencegahan konflik tetap menjadi satu-satunya cara untuk menghindari kehancuran global.