Pada pertengahan Januari 2026, Matahari menunjukkan aktivitas ekstrem yang berdampak langsung pada lingkungan antariksa di sekitar Bumi. Pada Senin, 19 Januari 2026, para ilmuwan cuaca antariksa mencatat terjadinya badai radiasi Matahari berkategori S4. Level ini menempatkan peristiwa tersebut sebagai salah satu badai radiasi terkuat dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Pemantauan intensif menunjukkan bahwa badai kali ini melampaui banyak peristiwa serupa sejak awal 2000-an. Lonjakan energi partikel yang dilepaskan Matahari menegaskan bahwa siklus aktivitas surya sedang berada pada fase aktif. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak teknologi dan operasional di Bumi.

aktivitas Matahari ekstrem memicu badai radiasi level S4

Ilustrasi radiasi Matahari, badai Matahari, dampak badai Matahari menerjang Bumi. Fenomena badai Matahari yang dahsyat dapat menyebabkan gangguan sinyal, mengganggu orbit satelit hingga merusak jaringan internet yang dapat berakibat fatal dan menyebabkan kiamat internet.(SHUTTERSTOCK/Lia Koltyrina)

Mekanisme Terjadinya Badai Radiasi Matahari

Matahari memicu badai radiasi ketika melepaskan energi magnetik dalam jumlah besar melalui ledakan surya. Ledakan tersebut sering menyertai lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME), yaitu semburan plasma panas yang membawa medan magnet kuat ke ruang antariksa.

Dalam proses ini, Matahari mempercepat partikel bermuatan—khususnya proton—hingga mencapai kecepatan sangat tinggi. Proton-proton tersebut melaju mendekati kecepatan cahaya dan menempuh jarak sekitar 150 juta kilometer dari Matahari ke Bumi hanya dalam waktu puluhan menit.

Saat partikel tiba di sekitar Bumi, medan magnet planet mengarahkan pergerakannya. Proton berenergi tinggi mengikuti garis medan magnet menuju wilayah kutub utara dan selatan. Setelah itu, partikel memasuki lapisan atas atmosfer dan memicu serangkaian interaksi fisik yang dapat diukur oleh instrumen ilmiah.

Penentuan Skala S4 dan Arti Tingkat Keparahan

Para ilmuwan mengukur kekuatan badai radiasi menggunakan skala S1 hingga S5. Skala ini mengacu pada jumlah serta energi proton yang terdeteksi satelit pemantau. NOAA mengembangkan sistem klasifikasi ini untuk membantu penilaian risiko terhadap teknologi dan aktivitas manusia.

Badai Januari 2026 masuk ke level S4, yang berarti “parah”. Level ini berada satu tingkat di bawah kategori ekstrem. Meski demikian, para ahli menilai badai S4 sebagai kejadian langka yang berpotensi mengganggu sistem teknologi modern, terutama di ketinggian atmosfer dan orbit Bumi.

Kondisi Keamanan bagi Manusia di Permukaan Bumi

Manusia yang berada di permukaan Bumi tetap aman selama badai radiasi ini berlangsung. Atmosfer Bumi menyerap sebagian besar radiasi berbahaya, sementara medan magnet global membelokkan partikel bermuatan agar tidak langsung mencapai daratan.

Para peneliti menegaskan bahwa badai Januari 2026 tidak termasuk peristiwa ground-level. Energi partikel yang dilepaskan Matahari tidak cukup kuat untuk menembus perlindungan alami Bumi hingga ke permukaan tanah. Dengan demikian, aktivitas sehari-hari manusia tidak menghadapi ancaman langsung dari peristiwa ini.

Dampak Nyata di Ketinggian Atmosfer dan Luar Angkasa

Dampak yang lebih signifikan muncul di wilayah udara dan ruang angkasa. Astronot yang bertugas di orbit Bumi menghadapi peningkatan paparan radiasi selama badai berlangsung. Badan antariksa biasanya menerapkan langkah mitigasi tambahan ketika aktivitas Matahari meningkat.

Penerbangan jarak jauh yang melintasi rute kutub juga menghadapi risiko lebih tinggi. Di wilayah kutub, perlindungan medan magnet Bumi melemah, sehingga partikel bermuatan lebih mudah menembus atmosfer. Otoritas penerbangan memantau kondisi ini dan dapat menyesuaikan rute demi menjaga keselamatan awak serta penumpang.

Satelit yang mengorbit Bumi turut menerima dampak langsung. Proton berenergi tinggi dapat mengganggu sistem elektronik, menurunkan kinerja sensor, dan memicu gangguan data sementara. Selama badai berlangsung, analis cuaca antariksa mencatat penurunan kualitas pengukuran akibat derasnya aliran partikel.

Aurora Meluas dan Gangguan Navigasi Satelit

Badai radiasi kuat juga memicu tampilan aurora yang lebih luas dan intens. Partikel bermuatan yang memasuki atmosfer atas berinteraksi dengan gas di lapisan tersebut dan menghasilkan cahaya berwarna-warni. Fenomena aurora kali ini terlihat hingga lintang yang lebih rendah dari biasanya.

Selain efek visual, badai ini memengaruhi sistem navigasi berbasis satelit. Space Weather Prediction Center melaporkan gangguan sementara pada sinyal navigasi, termasuk GPS yang digunakan dalam penerbangan dan komunikasi global. Operator sistem navigasi memantau kondisi ini untuk menjaga akurasi dan keselamatan operasional.

Pelajaran dari Badai Matahari Besar Sebelumnya

Para ilmuwan sering membandingkan peristiwa Januari 2026 dengan badai Matahari besar pada Oktober 2003 yang di kenal sebagai Halloween Solar Storms. Badai tersebut memicu pemadaman listrik di Swedia dan merusak infrastruktur kelistrikan di Afrika Selatan.

Meski badai terbaru tidak menimbulkan dampak sebesar peristiwa 2003, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya pemantauan cuaca antariksa. Ketergantungan manusia pada satelit, navigasi, dan sistem komunikasi global menuntut kesiapan teknologi untuk menghadapi aktivitas Matahari yang ekstrem.