Datamedia24 – Krisis pasokan chip memori global di perkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Keterbatasan produksi yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir di proyeksikan masih menjadi tantangan utama bagi industri teknologi hingga 2028. Akibatnya, harga berbagai jenis chip memori, termasuk DRAM dan NAND, di perkirakan tetap berada pada level tinggi.

Perkiraan tersebut di sampaikan dalam laporan terbaru Jefferies Equity Research yang menilai keseimbangan antara pasokan dan permintaan masih belum tercapai. Meskipun produsen terus berupaya meningkatkan kapasitas manufaktur, lonjakan kebutuhan dari sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan komputasi modern membuat ketersediaan chip memori tetap terbatas.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada produsen komponen, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga berbagai perangkat elektronik yang di gunakan masyarakat, mulai dari smartphone, laptop, komputer desktop hingga konsol gim.

Harga Chip Memori Diperkirakan Naik Tajam Sepanjang 2026

Dalam analisis Jefferies, harga chip memori di proyeksikan mengalami kenaikan signifikan pada paruh kedua 2026. Selama kuartal ketiga, harga di perkirakan meningkat sekitar 40 hingga 50 persen di bandingkan kuartal sebelumnya.

Momentum kenaikan tersebut di prediksi berlanjut pada kuartal keempat dengan tambahan sekitar 30 hingga 40 persen. Tren positif ini di perkirakan tidak berhenti di penghujung tahun, melainkan terus berlanjut sepanjang 2027 karena kondisi pasar yang masih di dominasi oleh tingginya permintaan.

Sementara itu, peluang penurunan harga baru di perkirakan mulai terlihat pada 2028. Hal tersebut di pengaruhi oleh rencana peningkatan kapasitas produksi global yang di proyeksikan bertambah sekitar 15 hingga 20 persen. Meski demikian, peningkatan tersebut di nilai masih membutuhkan waktu sebelum mampu memberikan dampak nyata terhadap harga pasar.

Permintaan AI Menjadi Faktor Utama Kenaikan Harga

Menurut Jefferies, salah satu penyebab terbesar kenaikan harga chip memori adalah meningkatnya kebutuhan industri kecerdasan buatan dan komputasi berperforma tinggi. Teknologi AI membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar di bandingkan perangkat komputasi konvensional.

Di sisi lain, pasokan chip memori belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan tersebut. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan pasar yang akhirnya mendorong harga terus meningkat.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa tiga produsen DRAM terbesar di dunia, yakni Samsung, SK Hynix, dan Micron, masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan volume produksi dalam waktu singkat. Proses ekspansi fasilitas manufaktur membutuhkan investasi besar serta waktu yang tidak sedikit, sehingga penambahan kapasitas belum dapat dilakukan secara instan.

Ilustrasi chip memori RAM di motherboard

Ilustrasi RAM.

Kontrak Jangka Panjang Membatasi Pasokan untuk Pasar Konsumen

Faktor lain yang turut memperketat pasokan adalah banyaknya kontrak jangka panjang yang telah di sepakati antara produsen chip memori dengan perusahaan teknologi berskala global.

Saat ini di perkirakan sekitar separuh kapasitas produksi telah di alokasikan melalui kontrak tersebut. Dalam beberapa tahun mendatang, porsinya bahkan di prediksi dapat meningkat hingga sekitar 70 persen.

Akibatnya, jumlah chip memori yang tersedia bagi produsen perangkat konsumen menjadi semakin terbatas. Dampaknya dapat di rasakan pada berbagai produk elektronik seperti ponsel pintar, laptop, komputer pribadi, hingga konsol permainan yang berpotensi mengalami kenaikan harga karena biaya komponen yang semakin mahal.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, konsumen kemungkinan harus membayar lebih tinggi untuk memperoleh perangkat dengan kapasitas RAM dan penyimpanan yang sama seperti saat ini.

Produsen Memori China Belum Mampu Menjadi Penyeimbang Pasar

Sejumlah kalangan sebelumnya memperkirakan produsen memori asal China dapat membantu menekan harga global melalui peningkatan produksi. Namun, hasil riset Jefferies menunjukkan harapan tersebut masih belum terwujud.

Perusahaan seperti CXMT dan YMTC memang terus memperluas kapasitas produksi mereka. Meski demikian, harga produk yang di tawarkan tidak berbeda jauh di bandingkan produsen memori utama dunia.

Selain itu, sebagian besar hasil produksi masih di fokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik di China. Dengan demikian, kontribusi terhadap pasokan internasional masih tergolong terbatas sehingga belum mampu mengurangi tekanan yang terjadi di pasar global.

Jefferies juga memperkirakan ekspansi industri memori China belum akan memberikan pengaruh signifikan terhadap keseimbangan pasokan dunia hingga setidaknya 2027.

Harga Perangkat Elektronik Berpotensi Terus Naik

Melihat berbagai faktor tersebut, Jefferies menilai harga chip memori kemungkinan besar akan tetap berada pada level tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan kapasitas produksi yang di rencanakan baru di perkirakan mulai memberikan dampak pada 2028, sementara permintaan dari industri AI di prediksi terus bertumbuh.

Selama pasokan belum mampu mengejar kebutuhan pasar, harga komponen memori di perkirakan sulit kembali ke level normal. Kondisi ini berpotensi memengaruhi harga jual berbagai perangkat elektronik yang mengandalkan RAM dan media penyimpanan berkapasitas tinggi.

Bagi konsumen maupun pelaku industri, perkembangan pasar chip memori menjadi faktor penting yang perlu di perhatikan. Sebab, perubahan harga komponen ini akan memberikan dampak langsung terhadap biaya produksi, harga perangkat, hingga perkembangan industri teknologi secara keseluruhan dalam beberapa tahun mendatang.