Bahan Bakar Minyak (BBM) – Kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak pertengahan April 2026 mendorong pemilik kendaraan untuk menyesuaikan pengeluaran. Akibatnya, banyak pengguna mobil mulai mencari cara agar biaya operasional tetap terkendali. Salah satunya, mereka mempertimbangkan penggunaan bahan bakar dengan harga lebih rendah.

Lonjakan harga Pertamax Turbo menjadi faktor utama perubahan ini. Sebelumnya, harga bahan bakar tersebut berada di kisaran Rp 13.100 per liter. Namun kini, harganya meningkat hingga sekitar Rp 19.400 per liter. Karena itu, sebagian pengguna kendaraan mulai mencari alternatif yang lebih murah.

Karakteristik Mesin Turbo dan Kebutuhan Oktan Tinggi

Mesin turbo memiliki cara kerja yang berbeda dibandingkan mesin naturally aspirated. Pada dasarnya, mesin ini menggunakan turbocharger untuk meningkatkan tekanan udara yang masuk ke ruang bakar. Dengan demikian, mesin mampu menghasilkan tenaga yang lebih besar.

Jayan Sentanuhady dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa kondisi tersebut menuntut penggunaan bahan bakar beroktan tinggi. Hal ini terjadi karena mesin turbo bekerja pada tekanan dan temperatur yang tinggi. Oleh sebab itu, mesin menjadi lebih rentan terhadap knocking jika menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai.

Knocking sendiri terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum waktu yang seharusnya. Selain itu, udara yang telah di kompresi dalam mesin turbo meningkatkan tekanan di dalam silinder. Akibatnya, pembakaran menjadi tidak stabil jika kualitas bahan bakar tidak memadai.

Risiko Penggunaan BBM Oktan Rendah

Banyak pengemudi tidak menyadari gejala knocking secara langsung. Hal ini disebabkan oleh sistem elektronik pada mobil modern yang secara otomatis menyesuaikan waktu pengapian. Dengan cara ini, mesin tetap dapat bekerja dalam kondisi aman.

Meskipun demikian, penyesuaian tersebut memiliki dampak tertentu. Mesin akan menghasilkan tenaga yang lebih kecil. Selain itu, respons akselerasi menjadi lebih lambat. Tidak hanya itu, konsumsi bahan bakar juga bisa meningkat.

Dalam jangka panjang, penggunaan bahan bakar dengan oktan rendah dapat mempercepat keausan komponen mesin. Misalnya, piston, ring piston, dan katup dapat mengalami kerusakan akibat tekanan pembakaran yang tidak stabil. Bahkan, dalam kondisi ekstrem, kerusakan permanen dapat terjadi.

Mobil bermesin turbo mengisi BBM di SPBU saat harga bahan bakar naik

Toyota Raize Turbo.

Kajian Ilmiah tentang Mesin Turbo

Penelitian dalam bidang teknik otomotif menunjukkan bahwa mesin turbo memiliki risiko knocking yang lebih tinggi. Sebagai contoh, studi dalam Applied Thermal Engineering menjelaskan bahwa peningkatan tekanan udara akibat turbocharger memengaruhi kestabilan pembakaran.

Lebih lanjut, tekanan udara yang tinggi membuat proses pembakaran menjadi lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Oleh karena itu, penggunaan bahan bakar dengan oktan tinggi menjadi sangat penting untuk menjaga performa mesin.

Dengan kata lain, pemilihan bahan bakar tidak hanya berkaitan dengan efisiensi biaya. Namun juga, hal tersebut berhubungan langsung dengan kinerja dan daya tahan mesin kendaraan.

Pentingnya Mengikuti Rekomendasi Pabrikan

Produsen kendaraan menentukan spesifikasi bahan bakar melalui berbagai pengujian teknis. Tujuannya, agar mesin dapat bekerja secara optimal dan tahan lama. Karena itu, pengguna kendaraan perlu mengikuti rekomendasi tersebut.

Penggunaan bahan bakar di bawah standar dapat mengganggu kinerja mesin. Selain itu, risiko kerusakan juga akan meningkat. Oleh sebab itu, pemilik kendaraan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengambil keputusan.

Jayan Sentanuhady menegaskan bahwa penghematan biaya harus dilakukan secara tepat. Jika tidak, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai justru dapat meningkatkan pengeluaran di masa depan.

Kesimpulan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi memang mendorong perubahan perilaku pengguna kendaraan. Namun demikian, pemilik kendaraan perlu memahami risiko teknis sebelum mengganti jenis bahan bakar.

Mesin turbo membutuhkan bahan bakar dengan oktan tinggi agar pembakaran tetap stabil. Sebaliknya, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dapat menurunkan performa dan mempercepat kerusakan mesin.

Pada akhirnya, pemilik kendaraan dapat menjaga performa mesin dengan mengikuti rekomendasi pabrikan. Dengan begitu, mereka dapat menghindari biaya perbaikan yang lebih besar dan memastikan kendaraan tetap bekerja secara optimal.