Banjir – yang melanda Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, menimbulkan dampak besar terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama sektor pendidikan. Genangan air yang bertahan dalam waktu lama merusak sejumlah fasilitas pendidikan dan mengganggu keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTSS) Yaspendi yang berlokasi di Jalan Pekan Sungai Iyu, Desa Sungai Iyu, menjadi salah satu sekolah yang merasakan dampak tersebut.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, siswa MTSS Yaspendi bersama anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) melaksanakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan agar sekolah dapat kembali menjalankan fungsi pembelajaran secara optimal.

Para siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTSS) Yaspendi di Jalan Pekan Sungai Iyu, Desa Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang bergotong royong. (Foto: Istimewa).
Partisipasi Aktif Siswa dalam Pembersihan Sekolah
Para siswa MTSS Yaspendi menunjukkan kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekolah dengan ikut terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan ruang kelas. Siswa memindahkan buku-buku pelajaran yang basah akibat terendam banjir dari rak-rak yang mengalami kerusakan. Mereka bekerja secara bergantian agar proses pemindahan berjalan lebih cepat dan efisien.
Selain memindahkan buku, siswa juga membersihkan sisa-sisa lumpur ringan, merapikan peralatan belajar, serta menata kembali ruang kelas yang mulai mengering. Keterlibatan siswa dalam kegiatan ini mencerminkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan pendidikan serta menumbuhkan semangat kebersamaan di antara peserta didik.
Peran Aktif TNI dalam Pemulihan Sarana Pendidikan
Anggota TNI memberikan kontribusi nyata dalam proses pemulihan fasilitas sekolah. Beberapa anggota TNI mengeruk lumpur tebal yang masih menutupi lantai ruang kelas. Mereka bekerja secara intensif untuk memastikan ruang kelas kembali bersih dan layak digunakan.
Anggota TNI lainnya menyiapkan gerobak dorong roda tiga untuk mengangkut sampah dan material sisa banjir. Mereka memindahkan sampah tersebut ke lokasi pembuangan agar lingkungan sekolah tetap bersih dan sehat. Kehadiran TNI tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga membangkitkan semangat siswa dan guru dalam mempercepat pemulihan sekolah.
Dampak Banjir terhadap Kegiatan Pendidikan
Banjir yang terjadi pada akhir November menyebabkan sejumlah sekolah di Kecamatan Bendahara terendam air selama beberapa bulan. Kondisi tersebut menghentikan aktivitas belajar mengajar karena ruang kelas dan fasilitas pendukung tidak memungkinkan untuk digunakan. Air banjir merusak peralatan belajar, dokumen sekolah, serta sarana pendukung lainnya.
Situasi ini menghadirkan tantangan bagi dunia pendidikan setempat. Oleh karena itu, pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat menempatkan pemulihan fasilitas pendidikan sebagai prioritas utama agar siswa dapat kembali mengikuti proses pembelajaran.
Pelaksanaan Pembelajaran Secara Bertahap
Seiring surutnya banjir, berbagai pihak melakukan pembersihan sekolah secara bertahap. TNI, guru, siswa, dan masyarakat sekitar bekerja sama untuk mempercepat pemulihan sarana pendidikan. Kolaborasi ini memperlihatkan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan pendidikan pascabencana.
Meskipun beberapa ruang kelas masih memerlukan perbaikan, sekolah mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar sejak Senin, 4 Januari 2026. Guru dan siswa memanfaatkan ruang kelas yang sudah bersih dan layak pakai. Sementara itu, proses pembersihan dan perbaikan ruang kelas lainnya terus berlangsung agar seluruh fasilitas sekolah dapat digunakan kembali.
Penguatan Nilai Kebersamaan Pascabencana
Kegiatan gotong royong antara siswa MTSS Yaspendi dan anggota TNI mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan solidaritas sosial pascabencana. Melalui kerja sama ini, seluruh pihak menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan di wilayah terdampak banjir.
Kegiatan tersebut juga memberikan pembelajaran sosial bagi siswa tentang pentingnya kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Upaya pemulihan pendidikan di Aceh Tamiang terus berjalan dengan harapan proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara normal dan berkelanjutan.