Federasi Bulutangkis – dunia atau Badminton World Federation akan menerapkan uji coba aturan time clock 25 detik pada turnamen Indonesia Masters 2026. Melalui kebijakan ini, BWF ingin meningkatkan tempo pertandingan sekaligus mengurangi potensi penundaan permainan yang sering terjadi di antara reli.

Dalam tahap awal penerapan, BWF belum memberlakukan sanksi berat. Pemain yang melanggar batas waktu hanya akan menerima peringatan dari wasit tanpa kartu kuning maupun kartu merah. BWF menjadikan fase ini sebagai masa evaluasi sebelum menentukan kebijakan lanjutan.

BWF menguji aturan time clock 25 detik di Indonesia Masters 2026

Ilustrasi servis dalam permainan Bulutangkis. Foto: (Getty Images/Scott Barbour)

Tujuan Penerapan Aturan Time Clock

BWF merancang aturan 25 detik untuk menciptakan pertandingan yang lebih efektif dan dinamis. Selama ini, jeda antar reli kerap berlangsung terlalu lama akibat rutinitas pemain yang berlebihan. Melalui aturan baru ini, BWF ingin menjaga ritme permainan tetap mengalir tanpa mengurangi kualitas pertandingan.

Wasit akan mulai menghitung waktu 25 detik setelah skor resmi tercatat. Dalam rentang waktu tersebut, pemain wajib segera bersiap dan melakukan servis. Dengan sistem ini, BWF berharap penonton dapat menikmati pertandingan yang lebih cepat dan kompetitif.

Penjelasan Resmi dari PBSI

Kepala Bidang Humas dan Media PP PBSI, Yuni Kartika, menjelaskan bahwa Indonesia Masters 2026 menjadi salah satu ajang penting dalam uji coba kebijakan ini. Ia menegaskan bahwa BWF masih mengedepankan pendekatan edukatif kepada atlet.

“Aturan 25 detik akan di gunakan di setiap jeda antar reli. Untuk sementara, wasit belum akan mengeluarkan kartu kuning atau kartu merah. BWF masih melakukan uji coba,” ujar Yuni Kartika dalam keterangannya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan pada hukuman, melainkan pembiasaan atlet terhadap tempo baru pertandingan.

Aktivitas yang Masih Diperbolehkan Pemain

Meski memberlakukan batas waktu ketat, BWF tetap memberi ruang bagi pemain untuk melakukan aktivitas ringan. Atlet masih boleh minum, mengelap keringat, atau membenahi perlengkapan seperti tali sepatu selama aktivitas tersebut berlangsung singkat dan tidak melampaui batas waktu yang di tentukan.

Aturan ini tidak hanya mengikat pemain yang melakukan servis, tetapi juga penerima servis. Pemain yang menerima servis wajib siap sesuai tempo dan tidak boleh sengaja memperlambat jalannya pertandingan. Dengan demikian, BWF menekankan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelancaran permainan.

Aturan Penggantian Shuttlecock

Permintaan penggantian shuttlecock juga masuk dalam pengawasan aturan time clock. Pemain harus mengajukan permintaan tersebut segera setelah reli berakhir. Proses penggantian tetap harus selesai dalam rentang waktu 25 detik.

Namun, BWF memberikan kewenangan penuh kepada wasit untuk menghentikan penghitungan waktu dalam kondisi tertentu. Salah satunya ketika lapangan memerlukan pengelapan karena licin atau faktor keselamatan lain. Dalam situasi seperti itu, wasit dapat menghentikan time clock demi memastikan pertandingan berjalan aman.

Sanksi Masih Bersifat Edukatif

Selama masa uji coba, BWF hanya memberikan peringatan kepada atlet yang melanggar aturan waktu. Wasit belum menerapkan kartu kuning maupun kartu merah. Pendekatan ini bertujuan memberi kesempatan kepada pemain untuk beradaptasi tanpa tekanan berlebihan.

BWF berencana melakukan evaluasi berkala berdasarkan respons pemain, ofisial, dan penyelenggara turnamen. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar keputusan apakah aturan time clock 25 detik akan diterapkan secara permanen di seluruh turnamen resmi.

Dampak Aturan Baru bagi Dunia Bulutangkis

Penerapan aturan ini berpotensi membawa perubahan signifikan dalam gaya bermain atlet. Pemain dituntut memiliki konsentrasi tinggi, manajemen energi yang lebih baik, serta kesiapan mental dalam tempo cepat. Di sisi lain, penonton akan menikmati pertandingan yang lebih efisien dan minim jeda.

Indonesia Masters 2026 menjadi ajang penting dalam proses adaptasi tersebut. Keberhasilan uji coba ini dapat membuka jalan bagi penerapan aturan serupa di level turnamen yang lebih luas.

Dengan pendekatan bertahap dan evaluasi menyeluruh, BWF berharap aturan time clock mampu meningkatkan kualitas pertandingan tanpa menghilangkan esensi strategi dan sportivitas dalam bulutangkis.