Sibolga – Pada dasarnya, masyarakat pesisir di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah masih menjaga tradisi Turun Karai. Tradisi ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai identitas budaya lokal. Oleh karena itu, masyarakat terus melaksanakannya hingga saat ini.
Tradisi Turun Karai berarti “turun ke air”. Tradisi ini dilakukan ketika bayi berusia 40 hari. Pada momen tersebut, keluarga membawa bayi keluar rumah untuk pertama kali. Selanjutnya, keluarga membasuh kaki bayi di masjid. Prosesi ini memiliki makna simbolik yang kuat. Dengan demikian, masyarakat memandangnya sebagai bentuk pengenalan anak kepada lingkungan sosial dan spiritual.

Ade Wulan saat Teras Pro 2 Sibolga, Kamis (15/01/2026).
Makna Filosofis Tradisi Turun Karai
Secara umum, tradisi Turun Karai mengandung nilai sosial yang tinggi. Pertama, keluarga memperkenalkan bayi kepada masyarakat sekitar. Kedua, masyarakat memberikan doa bersama. Dengan cara ini, hubungan sosial dapat terjalin sejak awal kehidupan anak.
Selain itu, keluarga mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Kehadiran mereka memperkuat ikatan kekerabatan. Selanjutnya, masyarakat membangun rasa kebersamaan. Oleh sebab itu, tradisi ini membantu menjaga solidaritas sosial di lingkungan pesisir.
Di sisi lain, tradisi ini juga memiliki makna religius. Keluarga membawa bayi ke masjid sebagai simbol kedekatan dengan agama. Dengan demikian, keluarga menanamkan nilai keagamaan sejak dini. Masyarakat berharap anak tumbuh dengan moral yang baik. Selain itu, masyarakat berharap anak mampu hidup sesuai norma sosial.
Tradisi Turun Karai di Tengah Perubahan Zaman
Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat menyesuaikan pelaksanaan Turun Karai. Namun, masyarakat tetap menjaga makna utamanya. Pada masa kini, keluarga melaksanakan prosesi secara sederhana. Meski demikian, nilai simbolik tetap terjaga.
Lebih lanjut, gaya hidup modern memengaruhi cara masyarakat mendokumentasikan tradisi. Keluarga kini menggunakan kamera ponsel. Kemudian, mereka membagikan dokumentasi melalui media sosial. Dengan cara ini, tradisi dapat dikenal lebih luas. Selain itu, generasi muda dapat mempelajari tradisi dengan lebih mudah.
Peran Generasi Milenial dan Generasi Z
Saat ini, Generasi Milenial dan Generasi Z memegang peran penting. Mereka aktif dalam pelestarian budaya lokal. Selain mengikuti prosesi, mereka juga mendokumentasikan kegiatan. Selanjutnya, mereka menyebarkan informasi melalui media digital.
Di tengah meningkatnya sikap individualisme, tradisi Turun Karai memberikan pembelajaran sosial. Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan. Selain itu, tradisi ini menanamkan rasa kepedulian sosial. Oleh karena itu, generasi muda dapat memahami pentingnya hubungan bertetangga.
Lebih jauh, keterlibatan generasi muda mendorong keberlanjutan tradisi. Mereka berperan sebagai penghubung antargenerasi. Dengan demikian, tradisi tidak terputus oleh perubahan zaman.
Turun Karai sebagai Warisan Budaya Pesisir
Pada akhirnya, masyarakat pesisir memandang Turun Karai sebagai warisan budaya. Tradisi ini memiliki nilai sosial dan religius. Selain itu, tradisi ini membentuk karakter anak sejak dini. Dengan demikian, masyarakat tidak memandangnya sekadar sebagai ritual.
Oleh sebab itu, keluarga memiliki peran utama dalam pelestarian tradisi. Masyarakat juga berperan sebagai pendukung. Selanjutnya, generasi muda berperan sebagai pewaris budaya. Melalui kerja sama ini, tradisi dapat terus bertahan.
Dengan demikian, Turun Karai tetap hidup sebagai identitas budaya pesisir. Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan dan doa. Selain itu, tradisi ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat pesisir. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus menjaga dan melestarikannya.