Manchester United – resmi memecat Ruben Amorim dari posisi manajer. Keputusan ini mengejutkan sebagian pihak, tetapi banyak penggemar dan analis menilai pemecatan itu memang sudah tepat. Performa Amorim dan tindakannya selama bursa transfer musim panas menimbulkan kontroversi yang akhirnya memaksa klub bertindak.

Dari luar, jendela transfer MU terlihat cukup berhasil. Klub merekrut dua pemain berpengalaman, Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo, serta menambah potensi jangka panjang melalui perekrutan Senne Lammens dan Benjamin Sesko. Secara keseluruhan, keberhasilan perekrutan ini mencapai sekitar 75%. Meski Sesko masih perlu dinilai lebih lanjut, potensi dan etos kerja mereka sudah terlihat menjanjikan.

Namun, perilaku Amorim selama proses transfer menimbulkan tanda tanya besar. Perlakuannya terhadap Lammens dan Sesko menunjukkan bahwa ia tidak sejalan dengan visi klub, sehingga pemecatan menjadi langkah yang tepat.

Ruben Amorim marah selama bursa transfer Manchester United 2026

Kobbie Mainoo dan Bruno Fernandes – Manchester City Vs Manchester United di final Piala FA 2023/2024 (AFP/Justin Tallis)

Popularitas Amorim karena Dukungan terhadap Pemain Muda

Ruben Amorim mendapat sambutan hangat dari penggemar pada November 2024 karena reputasinya sebagai pelatih yang mendukung pemain muda. Saat memimpin Sporting, Amorim mendorong talenta muda untuk berkembang dan memberikan mereka kesempatan bermain di tim senior.

Ia mengembangkan model bisnis yang fokus membeli pemain muda berbakat dan melatih mereka menjadi pemain papan atas. Filosofi ini membuat banyak pihak menaruh harapan besar ketika Amorim ditunjuk sebagai manajer MU.

Kontroversi Bursa Transfer: Amorim Tidak Setuju dengan Pilihan Klub

Meskipun dikenal mendukung pemain muda, Amorim menunjukkan sikap kontroversial selama bursa transfer musim panas. Laporan The Athletic menyebutkan bahwa Amorim ingin klub mendatangkan Ollie Watkins dan Emi Martinez. Namun, manajemen klub memilih Benjamin Sesko dan Senne Lammens, yang membuat Amorim marah karena berbeda dari keinginannya.

Selain itu, Amorim juga menginginkan Antoine Semenyo, bukan Bryan Mbeumo. Keputusan manajemen yang memilih Mbeumo justru memberikan kontribusi luar biasa bagi tim. Bahkan perekrutan Watkins menimbulkan risiko finansial karena pemain itu menelan biaya 40 juta pounds pada usia 29 tahun. Klub dengan disiplin keuangan yang ketat seperti MU tidak akan menyetujui pengeluaran semacam itu.

Risiko Gaji Tinggi dan Dampaknya

Amorim menekankan pada pemain matang dan sudah terbukti, tetapi strategi ini meningkatkan risiko gaji tinggi dan membebani klub secara finansial. Keinginannya fokus pada hasil instan membuat ia mengabaikan pengembangan pemain muda, yang seharusnya menjadi fondasi klub.

Tindakan ini menimbulkan konflik dengan strategi jangka panjang MU, sehingga pemecatan Amorim menjadi langkah logis. Klub memerlukan manajer yang mampu menyeimbangkan ambisi jangka pendek dan visi jangka panjang, bukan hanya mengejar kemenangan beruntun.

Kesimpulan

Manchester United memecat Ruben Amorim karena ketidaksesuaian antara filosofi manajer dan strategi klub. Meskipun Amorim terkenal sebagai pendukung pemain muda, tindakannya selama bursa transfer justru menimbulkan konflik dengan manajemen. Perekrutan Sesko dan Lammens menunjukkan potensi tim, sedangkan pilihan Amorim yang fokus pada pemain matang dan mahal tidak sejalan dengan tujuan jangka panjang MU.

Pemecatan ini memberi peluang bagi MU untuk menyeimbangkan pengembangan pemain muda, strategi transfer yang tepat, dan keberhasilan finansial klub. Dengan langkah ini, klub berharap mencapai stabilitas dan kesuksesan berkelanjutan.