Hujan Deras Di Madinah mengguyur sejumlah kawasan selama tiga hari dan membuat aliran air muncul di wilayah gurun Arab Saudi. Cuaca mendung masih menyelimuti beberapa daerah di bagian barat negara tersebut. Selain itu, otoritas meteorologi memperkirakan hujan dan badai petir masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Fenomena tersebut menarik perhatian karena hujan turun dengan intensitas cukup tinggi di beberapa lokasi. Jawaher Shaheen, seorang off-roader yang berada di kawasan itu, menyaksikan langsung peningkatan intensitas hujan di Al-Furaish. Menurut keterangannya kepada Arab News, curah hujan yang tinggi membuat air mulai mengalir dan membentuk aliran banjir.

Shaheen menjelaskan bahwa kawasan sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah menerima hujan yang lebih deras. Cuaca basah berlangsung selama tiga hari, sedangkan intensitas tertinggi terjadi pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Hujan yang berlangsung beberapa hari tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan kondisi cuaca di wilayah yang identik dengan bentang alam gurun. Namun, potensi cuaca buruk belum sepenuhnya berakhir.

Badai Petir dan Hujan Es Masih Berpotensi Terjadi

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi memperkirakan sejumlah wilayah masih menghadapi peluang badai petir. Fenomena tersebut berpotensi membawa hujan es di Jazan, Asir, Baha, Makkah, hingga Madinah.

Selain wilayah tersebut, awan badai juga berpeluang berkembang di Hail, Jouf, Perbatasan Utara, Provinsi Timur, serta Najran. Karena itu, masyarakat di sejumlah daerah masih perlu memperhatikan perkembangan kondisi cuaca.

Tak hanya hujan, angin yang membawa pasir dan debu juga berpotensi melanda beberapa lokasi. Fenomena tersebut dapat mengurangi jarak pandang secara signifikan. Bahkan, beberapa bagian Tabuk berpotensi mengalami penurunan jarak pandang horizontal hingga mendekati nol.

Perubahan cuaca itu juga dapat memengaruhi kondisi perairan. Wilayah laut yang berada di sekitar area badai berpeluang mengalami peningkatan gelombang dan kecepatan angin.

Gelombang Laut Merah Bisa Melampaui Dua Meter

Di kawasan Laut Merah, angin permukaan diperkirakan bergerak dengan kecepatan sekitar 15 hingga 35 kilometer per jam. Namun, kecepatan angin dapat menembus lebih dari 50 kilometer per jam ketika awan badai melintasi bagian tengah dan selatan.

Sementara itu, gelombang diperkirakan memiliki ketinggian antara 0,5 sampai 1,5 meter. Ketika badai petir berkembang, tinggi gelombang dapat melampaui dua meter. Situasi tersebut membuat kondisi laut menjadi lebih bergelombang di area yang terkena dampak badai.

Kondisi berbeda terjadi di Teluk Arab. Kawasan tersebut diperkirakan mengalami angin dengan kecepatan sekitar 10 sampai 30 kilometer per jam. Adapun tinggi gelombangnya berkisar antara 0,5 hingga satu meter. Secara keseluruhan, kondisi perairan Teluk Arab cenderung lebih tenang.

Hujan Deras di Madinah

Ilustrasi Gurun.

Hujan Deras di Madinah Bertepatan dengan Kemunculan Suhail

Menariknya, hujan deras di Madinah dan sejumlah kawasan Arab Saudi berlangsung bertepatan dengan periode kemunculan Suhail. Masyarakat Arab telah mengenal bintang tersebut sejak zaman dahulu dan secara tradisional menghubungkannya dengan pergantian musim serta perubahan kondisi cuaca.

Majed Al-Sahoubi, spesialis astronomi yang mempelajari hubungan antara bintang, musim, dan cuaca, menjelaskan bahwa setiap wilayah Arab Saudi memiliki waktu berbeda untuk menyaksikan kemunculan Suhail.

Menurut Al-Sahoubi, masyarakat di Jazan, bagian selatan Arab Saudi, biasanya mulai melihat Suhail sekitar 7 Agustus. Sementara itu, bintang tersebut umumnya muncul di wilayah tengah sekitar 24 Agustus.

Kemunculannya berlangsung lebih lambat di kawasan paling utara Arab Saudi. Penduduk di wilayah tersebut biasanya mulai melihat Suhail pada kisaran 7 hingga 10 September. Meski demikian, Al-Sahoubi menekankan bahwa musim Suhail tidak mempunyai tanggal awal yang benar-benar tetap setiap tahun.

Suhail Tidak Menjadi Penyebab Langsung Turunnya Hujan

Meski masyarakat secara tradisional mengaitkan Suhail dengan perubahan musim, Al-Sahoubi menegaskan bahwa kemunculan bintang tersebut tidak secara langsung memicu hujan. Masyarakat lebih sering menjadikannya sebagai penanda perubahan menuju kondisi cuaca yang lebih baik.

Pada periode kemunculan Suhail, pola hujan juga belum berlangsung secara teratur di seluruh Arab Saudi. Wilayah tengah dan kawasan gurun, misalnya, masih mengalami hujan dengan pola yang tidak menentu.

Sebaliknya, daerah selatan seperti Abha dan Al-Baha cenderung menerima hujan secara lebih konsisten. Perbedaan geografis membuat pola cuaca setiap kawasan tidak selalu sama.

Sementara untuk daerah gurun, periode hujan yang lebih teratur umumnya baru mulai berlangsung sekitar 16 Oktober. Oleh sebab itu, hujan deras di Madinah selama tiga hari kali ini menjadi salah satu fenomena cuaca yang menonjol menjelang perubahan pola musim di Arab Saudi.