Tradisi Saparan Bekakak – yang rutin di gelar di kawasan Gunung Gamping, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali mendapat perhatian dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta. Menurut lembaga tersebut, tradisi yang telah di wariskan secara turun-temurun itu tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mencerminkan semangat pelestarian alam dan keanekaragaman hayati.
Pandangan tersebut disampaikan dalam rangkaian Batu Gamping Festival II yang berlangsung di kawasan Cagar Alam Gunung Gamping. Melalui kegiatan ini, BKSDA ingin menunjukkan bahwa budaya lokal dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, pelestarian tradisi di nilai mampu menjadi bagian dari edukasi konservasi kepada masyarakat.
Tradisi dan Konservasi Dapat Berjalan Berdampingan
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Wahyu Tri Kuncara, menjelaskan bahwa Batu Gamping Festival II mengusung tema “Merawat Tradisi, Merawat Konservasi.” Tema tersebut di pilih sebagai bentuk komitmen untuk menghubungkan pelestarian budaya dengan upaya menjaga sumber daya alam secara berkelanjutan.
Menurutnya, konservasi merupakan kebutuhan yang harus terus dilakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung kehidupan manusia. Sementara itu, budaya menjadi media yang efektif untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Ia menilai bahwa perpaduan antara tradisi dan konservasi akan menghasilkan pemahaman yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi memandang konservasi sebagai sesuatu yang membatasi aktivitas sehari-hari, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang telah di wariskan oleh para leluhur.
BKSDA Ubah Pandangan Masyarakat tentang Konservasi
Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap kawasan konservasi identik dengan berbagai larangan. Namun, BKSDA Yogyakarta berupaya mengubah persepsi tersebut melalui pendekatan budaya. Menurut Wahyu, konservasi bukan hanya soal pembatasan aktivitas, tetapi juga bagaimana manusia memanfaatkan alam secara bijaksana tanpa merusak kelestariannya.
Selain itu, konservasi di harapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Oleh sebab itu, BKSDA terus mengajak berbagai pihak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan bersamaan dengan mempertahankan tradisi yang telah hidup sejak lama.
Pendekatan tersebut di yakini lebih mudah di terima masyarakat karena nilai-nilai budaya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, pelestarian alam tidak lagi di pandang sebagai kewajiban semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Penyembelihan boneka Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping di Situs Gunung Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (23/8/2024).
Jemparingan Di nilai Memiliki Nilai Konservasi
Tidak hanya Saparan Bekakak, Batu Gamping Festival II juga menampilkan berbagai tradisi lain, salah satunya jemparingan atau olahraga panahan tradisional khas Yogyakarta. Menurut Wahyu, tradisi tersebut sejak dahulu telah mengenalkan prinsip-prinsip konservasi.
Pada masa lalu, aktivitas berburu menggunakan busur dan panah dilakukan berdasarkan aturan adat yang ketat. Artinya, masyarakat tidak di perbolehkan berburu secara sembarangan. Sebaliknya, terdapat berbagai ketentuan mengenai waktu, jenis satwa, hingga tata cara berburu agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Karena itulah, nilai konservasi sebenarnya telah menjadi bagian dari budaya masyarakat sejak lama. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan alam secara arif tanpa merusak keberlangsungan ekosistem.
Saparan Bekakak Tetap Di laksanakan di Kawasan Cagar Alam
Nilai konservasi juga terlihat dalam pelaksanaan Saparan Bekakak yang di gelar di kawasan Cagar Alam Gunung Gamping. Kawasan tersebut merupakan salah satu area konservasi yang berada di bawah pengelolaan BKSDA Yogyakarta dan memiliki fungsi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Meskipun kawasan cagar alam memiliki perlindungan yang ketat, BKSDA tetap memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi tersebut. Hal ini karena Saparan Bekakak telah menjadi warisan budaya masyarakat yang terus di pertahankan dari generasi ke generasi.
Selain menyediakan dukungan, BKSDA juga memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan agar tetap berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, tradisi dapat terus di lestarikan tanpa mengganggu fungsi utama kawasan sebagai wilayah konservasi.
Pelestarian Budaya dan Alam Saling Menguatkan
BKSDA berharap masyarakat semakin memahami bahwa pelestarian budaya dan konservasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat saling mendukung demi menciptakan lingkungan yang lestari sekaligus mempertahankan identitas budaya daerah.
Lebih jauh lagi, keberadaan tradisi seperti Saparan Bekakak di harapkan mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan mempertahankan nilai-nilai luhur yang di wariskan para leluhur, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola kawasan konservasi, Tradisi Saparan Bekakak menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat berkembang seiring dengan upaya menjaga alam. Oleh karena itu, pelestarian tradisi dan konservasi lingkungan perlu terus berjalan berdampingan agar manfaatnya dapat di rasakan secara berkelanjutan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.